Kenalilah Dirimu. Maka Kau Akan Mengenal Tuhan-mu:
Kenalilah Dirimu. Maka Kau Akan Mengenal Tuhan-mu:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Jawa Dwipa Hari Kamis Pon.
Tgl 11 Agustus 2016
Kenalilah Dirimu. Maka Kau Akan Mengenal Tuhan-mu ini. Adalah
wejangan dasar yang paling penting dari Wahyu Panca Gha’ib, yang saya didik-kan
pada Para Kadhang kinasih saya, dengan menggunakan Wahyu Panca Laku. Jadi... Perlu
saya beritahukan. Siapapun yang ikut membaca artikel wejangan ini. Kalau ingin
paham dan mengerti. Saya harap bisa Toto Titi Surti Ngati-ati. Maksudnya harus
dengan Pengahayatan Rasa, bukan dengan perasa’an. Sebab, jika tidak, pasti akan
bingung. karena, bahasa Wejangan dalam Artikel ini, penjelasannya saya
ulang-ulang hingga berulang kali, sehingga menjadi artikel yang panjang lebar.
Tujuannya agar lebih jelas dan gamblang, serta mudah di pahami oleh orang awam
sekalipun. “kalau telaten dan dengan penghayatan rasa bacanya”. Kalau tidak,,,
jangankan yang masih awam, yang sudah ahli sekalipun, pasti akan mencep untuk
menutupi pusingnya.
Bahasa kitab-nya. "Man arofa nafsahu faarofa
robbahu" Kalau bahasa Wong Edan Bagu-nya
“Galilah rasa yang meliputi seluruh tubuhmu. Karena didalam
tubuhmu. Ada firman Tuhan. Yang dapat menjamin. Hidup mati dan dunia akheratmu”
Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian...
Di dalam beragama dan berkeyakinan dewasa ini, banyak manusia
yang terkurung dalam fenomena KATANYA. atau dalam bahasa agamanya, kita sering
medengarnya dengan istilah "taklid." Setiap manusia yang beragama
atau manusia yang memilih untuk tidak beragama, kesemuanya memiliki alasan
sendiri-sendiri.
Saya kira, panjenengan semuanya, khususnya yang
mengenal saya secara pribadi maupun di internet, sudah tidak asing lagi dengan
Wahyu Panca Laku, yang berinti pada pengamalan Cinta Kasih Sayang kepada apapun dan siapapun
serta dimanapun, yang saya gembar gemborkan di hampir setiap Artikel saya di
internet. Jujur... sebenarnya saya enggan. Tanpa didebat atau di sangkal
sekalipun, sebenarnya saya enggan.
Karena berkena’an dengan itu, saya mengingat lelaku
sufi yang pernah saya jalani tempo dulu, semasa saya masih berkelana mencari
hakikat hidup, seperti di bawa ini salokanya;
“Jika
ada sesorang yang bertanya kepadamu, apakah kamu cinta kepada Dzat Maha Suci
Tuhanmu, hendaklah kamu diam, kerana jika kamu menjawab “Saya tidak
cinta kepada-Nya”. Maka kamu kafir dan jika kamu menjawab, “Saya
cinta kepada-Nya”. Maka perbuatan kamu berlawanan dengan katamu”
Namun,,, hanya dengan cara inilah saya bisa
menyampaikan benar yang sebenarnya, tentang dan soal serta bab Dzat Maha Suci.
Khususnya untuk Para Kadhang didikan saya. Sebagai mujud bentuk iman cinta
kasih sayang saya, antar sesama hidup. Sebab itu, walau banyak rintangan dan
hambatan serta cela’an, saya tidak peduli. Saya tetap menjadi diri saya sendiri
dan menuju satu titik, yaitu Dzat Maha Suci. Bukan yang lain selain-Nya.
Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian....
Ketahuiah... Ahli Makrifat itu, tidak mempunyai
makrifat, jika ia tidak mengenal Dzat Maha Suci dari segala sudut pandang, dan dari
segala arah mana saja ia menghadap. Ahli Hakikatpun, hanya ada satu arah, yaitu ke arah Yang
Hakiki itu sendiri.
“Ke mana saja kamu memandang, di situ ada Wajah
Allah” (Al-Qur-an)
Maksud dari kata “Ke mana saja kamu
memandang”, sekilas sama dengan akal atau khayalan, maka di situ ada
Wajah Allah”. Terkesan membayangkan, seakan-akan wajah Allah itu ada di depan
kita.
Ini bukan persoalan kita kenal atau tahu, ahli
makrifat atau ahli hakikat. Seperti pandai berkata-kata dan mahir dalam berbahasa,
berdalil, mumpuni berhadist dan bla...bla...bla... lainya, itu tidak
diperlukan, dan tidak penting dalam hal ini.
Lalu apa yang penting dan perlu?
Yang peru dan penting, adalah, kesadaran diri kita, tentang
Laku Spiritual pribadi kita, berkena’an dengan masalah pekerja’an dan keada’an
(sikon) diri kita. Karena bagi yang sadar, cuma ada satu pandangan saja,
yakni “Ke mana saja kamu memandang, di situ ada Wajah Allah” bukan sebatas
akal atau khayalan, karena Dzat Maha Suci itu, bukan akal atau khayalan.
Dalam bahasa awamnya, boleh dan bisa disamakan
dengan istilah “sadar diri”, maksudnya, sadar akan pekerja’an dirinya, sadar
dengan keada’an dirinya (sikon) dirinya. Sebab...
Yang sadar akan pekerja’an dirinya, yang sadar
dengan keada’an dirinya (sikonnya). Apabila dia di tanya, mereka akan berkata atau bertutur kata,
mengikut pekerja’an diri mereka atau mengikut
keada’an diri mereka. Bukan dengan sangka-sangka’an ilmunya, bukan
dengan cerita itu dan cerita ini, tetapi disampaikan mengikut kesadaran yang
berkena’an dengan pekerja’an dirinya dan
keada’an dirinya. Itu pasti akan berkata dalam keadaan
sadar diri dan bertutur dengan bahasa pekerja’an dan keada’an (sikon) dirinya.
Sedikit
saya bercerita tentang kejadian beberapa waktu yang lalu. Ada seorang kadhang
dan Saudara, yang propesinya sebagai pedagang, lalu mereka datang, kepada saya,
untuk minta bantuan spiritual, agar usaha dagangnya menjadi ramai pembeli, dan
mendapatkan hasil yang lebih dari kata cukup. Lalu saya ajari mereka Wahyu
Panca Gha’ib yang di Praktekan dengan menggunakan Wahyu Panca Laku.
Karena
saya mengerti, tidak ada satupun jalan yang lebih baik, selain jalan yang hanya
menuju kepada Dzat Maha Suci. Sebab saya paham, tidak ada cara yang lebih baik,
selain cara Dzat Maha Suci. Sebab karena saya tahu. Hanya dengan jalan menuju
kepada Dzat Maha Suci dan menggunakan caranya Dzat Maha Suci-lah. Siapapun dia,
disengaja atau tidak di sengaja, disadari atau tidak disadari, akan menemukan
dan mendapatkan “SEMPURNA” dan yang namanya Sempurna itu, melampaui segalanya.
Artinya; Pasti sukses. Pasti berhasil.
Selang
beberapa waktu kemudia, mereka mengeluh kesulitan, menjalankan petunjuk dari
saya, tentang mempraktekan Wahyu Panca Ghaib dengan menggunakan Wahyu Panca
Laku. Karena itu, mereka datang kembali kepada saya, untuk pasrah bongkok’an
kepada saya, kalau istilah jawanya, pasrah dalam arti, menyerahkan laku
spiritualnya kepada saya, mereka terima matengnya saja. Tidak ikut laku
spiritual, cukup fokus ke soal dagang saja, dan saya yang bagian laku spiritualnya
buat mereka, mereka berjanji akan menjamin kebutuhan saya dalam sehari-harinya,
ada yang mau kirim uang tiap seminggu sekali dan ada juga yang mau kirim uang
tiap sebulan sekali. Sebagai bayaran atau imbalan dukungan laku spiritual dari
saya.
Namun
saya menolaknya, bahkan tidak saya hiraukan. Kenapa begitu, karena Wong Edan
Bagu yang sekarang, bukan Wong Edan Bagu yang dulu lagi. Sebab saya tahu, kalau
itu saya iyai, berati saya telah memdodohi bahkan membohongi mereka. Karena saya
mengerti, kalau itu saya sanggupi, berati saya telah menyesatkan mereka, dari
jalan kebenaran. kebenaran yang nyata tentang Dzat Maha Suci, yang berlaku
untuk semuanya dan segalanya, yang sesungguhnya harus di lalui oleh semuanya
yang sedang berjalan menuju-Nya.
Pada
hakikatnya, apapun yang di perbuat dan di lakukan oleh sekalian mahkluk hidup,
adalah proses menuju kembali kepada asal usulnya, yaitu Dzat Maha Suci, karena
siapapun dia, selagi di duduki hidup di dunia ini, pasti akan mati pada
akhirnya. Kalau sudah mati, mau kemana lagi, kalau bukan kembali kepada asal
usulnya. Bodoh namanya kalau dia menuju surga dan neraka, apa lagi pepohonan
dan jembatan serta rumah kosong. Karena kita bukan berasa dari semua itu “Inna
lillaahi wa inna illaaihi roji’un” kita berasa dari Dzat Maha Suci, kita milik
Dzat Maha Suci dan Hanya kepada-Nya kita harus kembali pulang, bukan ke
selain-Nya.
Dan
hanya bagi yang menyadari akan hal ini, pasti akan terasa lebih mudah dan
ringan serta pasti menjamin, sedangkan bagi yang tidak menyadarinya, sudah
barang tentu akan sulit dan berat, bahkan merasa mustahil, bercampur bingung
dan hawatir serta bimbang bahkan takut.
Para
Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian....
Ketahuilah,,,
tidak ada yang lebih dan melebihi dari yang namanya sempurna, karena sempurna
adalah melanpaui segalanya dan semuanya di dunia maupun di akherat, sebab sempurna adalah bersama Dzat Maha Suci selama
di dunia, dan menyatu menjadi satu dengan Dzat Maha Suci di Akherat nantinya.
Tidak ada jalan yang paling tepat, selain jalan yang hanya menuju kepada Dzat
Maha Suci. Tidak ada cara yang lebih baik, selain dengan caranya Dzat Maha Suci
itu sendiri.
Menurut pengalaman spiritual pribadi saya, setiap yang ada,
pasti dapat dikenal, dan hanya yang tidak ada, yang tidak dapat dikenal. Karena
Dzat Maha Suci Allah/Gusti/Tuhan itu, adalah Dzat yang wajib
al-wujud. Artinya; yaitu
Dzat yang wajib adanya, tentulah dapat dikenal oleh siapapun yang ingin
mengenalnya, dan kewajiban pertama bagi setiap yang beragama, khususnya muslim,
adalah terlebih dahulu mengenal kepada yang disembahnya, barulah ia bisa melakukan
ibadah, sebagimana yang telah di sabdakan Rasullullah, yang artinya; “Barangsiapa
yang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya, dan barangsiapa yang
mengenal Tuhannya, maka binasalah (fana) dirinya”
Lalu diri mana yang wajib kita
kenal...?! Agar bisa mengenal Dzat Maha Suci-Tuhan...!!! He he he he . . . Edan
Tanan.
Para
Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian....
Sungguhnya diri kita terbagi dua,
sebagaimana firman Dzat Maha Suci dalam surat Luqman ayat 20, yang artinya; “Dan Allah telah menyempurnakan bagimu nikmat dzahir dan nikmat
batin”
Jadi berdasarkan ayat di atas, diri kita sesungguhnya
terbagi dua.
Yang Pertama Diri Dzahir, yaitu diri yang dapat
dilihat oleh mata, dan dapat diraba oleh tangan (tubuh/raga ini).
Yang Kedua Diri Bathin, yaitu yang tidak dapat
dipandang oleh mata, dan tidak dapat diraba oleh tangan, tetapi dapat dirasakan
oleh panca indera.
Karena sedemikian pentingnya peran diri yang bathin
ini, di dalam upaya untuk mengenal Dzat Maha Suci, itulah sebabnya Dzat Maha
Suci menyuruh kita dengan firmannya, dalam surat az-Zariat ayat 21, agar supaya
kita melihat ke dalam diri (introspeksi diri) Dzat Maha Suci memerintahkan
kepada manusia, untuk memperhatikan ke dalam dirinya, disebabkan karena di
dalam diri manusia itu, Dzat Maha Suci telah menciptakan sebuah mahligai yang
mana di dalamnya, Dzat Maha Suci telah menanamkan rahasia-Nya.
Sebagaimana sabda Rasul di dalam Hadis Qudsi, yang
artinya;
“Aku jadikan dalam rongga anak Adam itu,
mahligai, dan dalam mahligai itu, ada dada, dan dalam dada itu, ada hati
(qalbu) namanya, dan dalam hati (qalbu) ada mata hati (fuad) dan dalam mata
hati (fuad) itu, ada penutup mata hati (saghaf) dan dibalik penutup mata hati
(saghaf) itu, ada nur/cahaya (labban), dan di dalam nur/cahaya (labban) itu,
ada rahasia (sirr) dan di dalam rahasia (sirr) itulah Aku kata Dzat Maha
Suci”.
Keterangan satu;
Mahligai, adalah Cinta Kasih Sayang.
Dada, adalah Tempat atau Lapangan.
Hati/Qalbu adalah rumah.
Mata Hati, adalah Pintu Rumah.
Penutup Mata Hati, adalah Tirai atau kelambu.
Nur Cahaya, adalah Ruh/Hidup.
Rahasia atau Sir, adalah Kuasanya Ruh/Hidup “RASA”.
Dan di dalam Kuasanya Ruh/Hidup “RASA” itulah Dzat
Maha Suci berada.
Keterangan dua;
Kalau sebutan Romo, adalah diri atau ruh, yang terdiri
dari empat anasir, yaitu sedulur papat kalau istilah ilmunya, kalau istilah
spiritualnya, mutmainah, aluamah, amarah dan supiyah, kalau istilah kebatinan
agamanya di sebut jibrail, mikail, ijroil dan isrofil. Empat anasir ini, jika
manunggal menjadi satu kesatuan, di sebut DIRI atau ruh. Kalau sebutan Gusti
Ingkang Moho Suci, adalah Ruh atau Ruh Suci atau Ruh Kudus atau Hidup yang
berasal dari Dzat Maha Suci. Yang memiliki jaminan bagi tiap-tiap wujud yang di
tempatinya yang mau mengenalnya. Kalau sebutan Kanjeng Romo Sejati Gusti Prabu
Heru Cokro Semono, adalah Dzat Maha Suci itulah.
Jadi,,, kalau diurut lapisan dimensinya seperti ini.
Isinya wujud/jasad/raga manusia itu, adalah Ruh atau Ruh Suci atau Ruh Kudus
atau Hidup, yang berasal dari Dzat Maha Suci. Sedangkan Isinya Ruh atau Ruh
Suci atau Ruh Kudus atau Hidup yang berasal dari Dzat Maha Suci itu, ya Dzat
Maha Suci itulah. La kalau diri atau ruh yang berasal dari empat anasir.
Tersebut sedulur papat kalau istilah ilmunya, kalau istilah spiritualnya,
mutmainah, aluamah, amarah dan supiyah, kalau istilah kebatinan agamanya di
sebut jibrail, mikail, ijroil dan isrofil ini, adalah jalan untuk mengenal Ruh
atau Ruh Suci atau Ruh Kudus atau Hidup yang berasal dari Dzat Maha Suci. Agar
supaya bisa mengerti, bisa paham dan tahu benar tentang Dzat Maha Suci yang di
sembah dan di puja puji setiap sa’atnya.
Apa dan Bagaimanakah maksud sabda Rasul dalam Hadis
Qudsi dan Banyolah Wong Edan Bagu tersebut?
Dzat Maha Suci berfirman dalam surat an-Nahal ayat, 43.
Tentang untuk mempelajari hal ini, yang artinya; “Tanyalah kepada ahli
zikrullah (Ahlus Shufi) kalau kamu benar-benar tidak tahu.”
Maksudnya; Jika memang benar-benar tidak tahu dan
ingin tahu, mengerti dan memahaminya. Tanyalah kepada ahlinya, karena soal ini,
tidak bisa di jelaskan hanya dengan tulisan, atau suara di telephon, datang
temui ahlinya, lalu dengan berhadapan secara langsung, bertanyalah. Sebab Dzat
Maha Suci itu ghaib, maka perkara ini, termasuk perkara yang dilarang untuk
disampaikan, dengan istiah katanya dan dipaparkan tanpa bukti yang nyata,
(kira-kira).
Kenalilah Raga/Jasad/Tubuh-Jiwa/ruh/diri-Hidup/Ruh/Guru
Sejatimu;
Pada umumnya, orang hanya mengetahui, bahwa manusia itu, hanya terdiri dari jasad dan ruh saja. Mereka tidak memahami, bahwa sesungguhnya manusia terdiri
dari tiga unsur , yaitu. Raga/Jasad/Tubuh. Jiwa/ruh. Ruh/Hidup. Ini dapat dibuktikan dalam firman Dzat Maha Suci dalam
surah Shaad ayat (38:71-73) yang Artinya;
“Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Ku
sempurnakan kejadiannya, maka Ku tiupkan kepadanya Ruh-Ku. Maka hendaklah kamu tunduk
bersujud kepadanya” Lalu seluruh malaikat itu bersujud
semuannya.
Pada ayat yang lain. Dzat Maha Suci menjelaskan
tentang penciptaan jiwa (nafs). Surah Asy Syams ayat (91:7-10) , yang Artinya;
“Dan demi nafs (jiwa) serta penyempurnaannya, maka Allah ilhamkan kepada
nafs itu jalan ketaqwaaan dan kefasikannya. Sesungguhnya beruntunglah orang
yang mensucikannya dan sesungguhnnya rugilah orang yang mengotorinya”
Pada ayat yang lain lagi. Dzat Maha Suci menjelaskan tentang proses kejadian jasad (jisim). Dalam Surah Al Mukminun ayat (23:12-14), yang Artinya;
“Dan sesungguhnya. Kami telah menciptkan manusia dari saripati tanah, Kemudian jadilah saripati itu air mani, yang disimpan dalam tempat yang
kukuh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal
darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan
tulang-tulang, lalu tulang-tulang ini/ Kami bungkus dengan daging.
Kemudian Kami jadikan dia makhluk berbentuk lain, maka Dzat Maha Suci. Pencipta yang paling baik”
Tentang Jasad/raga/tubuh;
Jasad atau jisim, adalah angggota tubuh manusia
terdiri dari mata, mulut, telinga, tangan, kaki dan lain-lain sekujur tubuh kita ini. Ia dijadikan dari tanah liat, yang termasuk dalam derejat
paling rendah. Keadaannya dan sifatnya dapat mencium, meraba, melihat. Dari jasad
ini timbullah kecenderungan dan keinginan yang disebut Syahwat. Ini dijelaskan
dalam Al Quran Surat Ali Imran, yang Artinya;
“Dijadikan indah pada pandangan manusia , merasa kecinta’an apa-apa yang dingininya (syahwat), yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta
yang bertimbun dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatan ternakan
dan sawah ladang, Itulah kesenangan hidup di dunia, dan kepada Dzat Maha Suci tempat sebaik-baik kembali”
Sungguh saya telah membuktikannya dengan Wahyu Panca
Gha’ib, yang saya Praktekan dengan menggunakan Wahyu Panca Laku. Dan hasil yang
saya dapatkan, adalah Benar dan tepat.
Tentang Jiwa/ruh/diri (Nafs);
Kebanyakan orang mengaitkannya
dengan diri manusia atau jiwa. Padahal jiwa berkaitan dengan derejat atau
kedudukan manusia, yang paling rendah dan yang paling tinggi. Jiwa ini memiliki dua jalan yaitu. Pertama... Menuju hawa nafsu (nafs sebagai
hawa nafsu). Kedua...
Menuju hakikat manusia (nafs
sebagai diri manusia).
Hawa nafsu lebih cenderung kepada
sifat-sifat tercela, yang menyesatkan dan menjauhkan manusia dari Dzat Maha Suci.
Sebagaimana Dzat Maha Suci berfirman, dalam surah (Shaad ayat; 26) yang Artinya;
“..... dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, kerana ia akan menyesatkan
kamu dari jalan-Ku”
Kaitan hati dan hawa nafsu;
Hati memainkan peranan yang
sangat penting dalam diri manusia, ia menjadi sasaran utama Syaitan. Syaitan berdaya upaya menutupi hati manusia
dari menerima Nur llahi (Cahaya Dzat Maha Suci).
Sebagaimana sabda Rasulullah yang
bermaksud;
Jikalau tidak kerena syaitan-syaitan itu menutupi
hati anak Adam, pasti mereka telah milihat keraja’an langit Allah (Maksudnya Kebenaran Dzat Maha Suci yang Maha Segalanya).
Cara syaitan menutupi hati
manusia itu dengan cara –cara tertentu yaitu, dengan menghidupkan hawa nafsu
tercela dan yang membawa ke arah maksiat. Semuanya sudah tersedia dan berada dalam diri manusia, artinya, nafsu itulah syaitan. Sebab itu, sedulur papat ini, harus di
kenali, karena dengan mengenalinya, sedulur papat ini, akan manunggal/menyatu
menjadi satu kesatuan, tersebut ruh atau diri. Jika tidak di kenali, maka
merekan akan berpecah belah, menjadi syaitan atau tirai atau kelambu, yang
menutupi hati dari Nur Cahaya.
Itu sebab... Rasulullah pernah berpesan, setelah kembali dari perang Badar. Beliau bersabda;
Musuhmu yang terbesar adalah nafsumu, yang berada di antara kedua
lambungmu (Riwayat Al-Baihaki). Jihad yang paling utama adalah jihad
memerangi hawa nafsumu sendiri. (Riwayat Abnu An-Najari)
Diri Manusia;
Nafs atau jiwa sebagai diri
manusia, adalah suatu yang paling berharga, kerana ia berkaitan dengan nilai
hidup manusia, dan nafs atau diri atau ruh atau manunggalnya sedulur papat, yang diberi rahmat dan redha oleh Dzat Maha Suci.
Sebagaimana firmannya dalam surah (Al-Fajr, ayat; 27-30 ) yang Artinya;
“Hai jiwa yang tenang (Nafsu Mutmainnah. Aluamah.
Amarah dan Supiyah),
kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang tenang lagi diredhai-Nya. Maka masuklah ke dalam
golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam Syurga-Ku”
Dan lagi dalam surah (Yusuf: 53) Dzat Maha Suci
Berfirman, yang Artinya;
“Dan aku tidak membebaskan diriku dari kesalahan,
kerana sesungguhnya nafsu itu, selalu menyuruh ke arah kejahatan, kecuali nafsu
yang beri rahmat oleh Tuhanku”
Firman diatas Berkaitan dengan sabda Rasulullah yang
Artinya;
“Barang siapa yang mengenal dirinya , maka ia mengenal
Tuhannya”
Firman dan Hadist ini, menyatakan syarat untuk
mengenal Dzat Maha Suci, adalah dengan mengenal diri. Diri atau nafs/ruh yang
di maksud di sini, adalah empat nafsu atau sedulur papat yang sudah manunggal,
sudah menyatu, karena kalau sudah manunggal/menyatu, sudah tidak terpengaruh
oleh goncangan sikon apapun. Setiap manusia mempunyai nafs/ruh/diri yang sama,
hanya saja berbeda cara menerapkannya. Ada nafs/ruh/diri yang di gunakan untuk menuju jalan nur cahaya, ada nafs/ruh/diri
yang di gunakan untuk menuju jalan kegelapan.
Bagi nafs yang menuju kegelapan atau nafs tercela, ya
tidak sempurna ketenangannya/keberhasilannya/kesuksesannya, terutama ketika
lupa kepada Dzat Maha Suci. Walau tenang, jika ada masalah pasti bingung. Walau
berhasil, kalau ada persoalan pasti gugup. Walau sukses, jika ada kepentinga
atau keperluan sudah pasti akan ragu, bimbang, khawatir bahkan takut.
Jangan-jangan... Jangan-jangan... dan Jangan-jangan kangkung sambel trasi. He
he he . . . Edan Tenan.
Dzat Maha Suci Berfirman dalam surah (Al Qiyammah
ayat. 2) yang Artinya;
“Dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat tercela. Nafsu
ini hanya dapat dikenali dan disaksikan dengan kemampuan tertentu manusia, yaitu
dengan pancaran Bathin”
Sungguh saya telah membuktikannya dengan Wahyu Panca
Gha’ib, yang saya Praktekan dengan menggunakan Wahyu Panca Laku. Dan hasil yang
saya dapatkan, adalah Benar dan tepat.
Tentang Ruh/Hidup/Guru Sejati;
Ruh mempunyai dua arah pengertian yaitu;
Pertama yaitu. Sebagai nyawa.
Kedua yaitu. Sebagai suatu yang halus dari
menusia (pemberi cahaya kepada jiwa/ruh atau yang menghidupkan jiwa/ruh dan
raga/tubuh/jasad).
Saya gambarkan seperti ini.
Ruh sebagai nyawa kepada jasad atau tubuh . Ia ibarat
sebuah lampu yang menerangi ruang. Ruh adalah lampu, ruang adalah sebagai
tubuh. Jika lampu menyala maka ruangan
menjadi terang. Jadi tubuh/raga/badan kita ini, bisa itu dan ini kerena ada Ruh (Hidup).
Didalamnya.
Dalam Al-Quran kata ruh disebut dengan sebutan ruhul amin dan ruhul awwal atau ruhul qudsiyah. ruhul amin dan ruhul awwal atau ruhul qudsiyah ini, berasal dari
empat anasir, bukan dari Dzat Maha Suci. Empat anasir itu, masing-masing
tersebut. Air. Angin. Api dan Saripatinya Bumi, dalam istilah keilmuannya.
Empat anasir ini, setelah menjadi ruh, disebut Jibrail. Mika’il. Ijro’il dan
Isrofil kalau istilah agamanya. Dan istilah kejawenya disebut. Sedulur Papat
atau Kakang kawah. Adi ari-ari. Sedulur tunggal ketok Puser lan Getih. Kalau
istilah spiritualnya, di sebut Mutmainnah. Aluamah. Amarah dan Supiyah.
Empat anasir tersebut. Air. Angin. Api dan Saripatinya
Bumi, dalam istilah keilmuannya. Dan disebut Jibrail. Mika’il. Ijro’il dan
Isrofil kalau istilah agamanya. Dan istilah kejawenya disebut. Sedulur Papat
atau Kakang kawah. Adi ari-ari. Sedulur tunggal ketok Puser lan Getih. Kalau
istilah spiritualnya, di sebut Mutmainnah. Aluamah. Amarah dan Supiyah ini. Tak
kala belum manunggal/menyatu. Disebut sebagai ruhul awwal, dan kalau sudah manunggal/menyatu, disebut ruhul qudsiyah, sedangkan sebutan ruhul amin atau Ar Ruh Al –Amin,
adalah gelar istimewa yang di anugrahkan khusus untuk Jibrail atau Kawah atau
Mutmainah kita. Dan
ruhul qudsiyah inilah yang dimaksud sebagai diri atau ruh atau nyawa atau sukma.
Jadi,,, kesimpulannya. Yang di sebut diri atau ruh
atau nyawa atau sukma itu, adalah yang berasal dan berbahan dari empat anasir
inilah. Tersebut. Air. Angin. Api dan Saripatinya Bumi, dalam istilah
keilmuannya. Dan disebut Jibrail. Mika’il. Ijro’il dan Isrofil kalau istilah
agamanya. Dan istilah kejawenya disebut. Sedulur Papat atau Kakang kawah. Adi
ari-ari. Sedulur tunggal ketok Puser lan Getih. Kalau istilah spiritualnya, di
sebut Mutmainnah. Aluamah. Amarah dan Supiyah. Bukan Ruh atau Hidup, yang
berasal dari Dzat Maha Suci.
Dzat Maha Suci Berfirman dalam surah (Asy-Syu’ araa,
ayat, 192-193) yang Artinya;
“Dan sesungguhnya Al- Quran ini benar-benar diturunkan
oleh Tuhan semesta alam, Dia dibawa oleh Ar Ruh Al –Amin (Jibrail)”.
Maksudnya, jika harus di kupas lebih dalam. Ar Ruh Al
–Amin itu, kan Jibrail, salah satu dari sedulur papat kita sendiri”. Artinya, yang
membawa Al-Qur’an itu, adalah salah satu sedulur papat kita sendiri. Namun yang
mengalaminya pada sa’at itu. Adalah Nabi Muhammad. Karena hanya Nabi Muhammad
yang memiliki kesadaran murni pada sa’at itu. Andai saja semua manusia pada
sa’at itu, memiliki kesadaran murni setara Nabi Muhammad, pasti akan merasakan
hal yang sama dan mengalami hal yang sama seperti Nabi Muhammad pada sa’at itu.
Artinya, tidak akan meremehkan Al-Qur’an.
Sebagaimana firman Dzat Maha Suci dalam surah
(As-Sajdah, ayat, 9) yang Artinya;
“Kemudian Dia menyempurnakan dan meniyupkan kedalam
tubuhnya. Ruh-Nya dan dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan
hati , tetapi kamu sedikit sekali bersyukur”
Artinya,,, ruhul awwal atau qudsiyah, itu berati bukan
Ruh yang datang dari Dzat Maha Suci atau
berasal dari Dzat Maha Suci. Yaitu (Ruh/Hidup/Ruh Suci atau Ruh Kudus), ruhul
awwal atau qudsiyah atau diri atau ruh atau nyawa atau sukma ini, dia di
bekalkan kepada manusia setelah Ruh di tiupkan kedalam jasad/raga/tubuh manusia,
sebagai penunjuk dan pengkhabar gembira bagi orang-orang beriman. Ini adalah ruh
yang disucikan dihadirat Dzat Maha Suci. Ia bercahaya empat warna yang khas,
apabila nafsu telah sempurna. Maksudnya sudah manunggal/menyatu menyadi satu
kesatuan (Bersih Hati), tersebut “DIRI” atau jati diri.
Hati merupakan raja bagi seluruh tubuh manusia. Perilaku dan perangai seseorang, merupakan cerminan hatinya. Dari hati inilah
pintu dan jalan yang dapat menghubungkan manusia dengan Tuhan-nya. Dengan demikian, untuk mengenal diri, harus dimulai
dengan mengenal hati sendiri. Yang artinya, mengenal diri, berati mengenal
Hatinya sendiri. Mencari jati diri, berati mencari sedulur papatnya sendiri.
Dan Mengenal diri atau Mencari Jati diri, berati mengenal Ruhnya sendiri atau Hidupnya
sendiri atau Guru Sejatinya sendiri. Dan mengenal Ruhnya atau Hidupnya atau Guru Sejatine
sendiri, berati Mengenal Tuhan-nya sendiri.
Hati mempunyai dua pengertian;
Hati jasmani yaitu sepotong daging yang terletak di
dada sebelah kiri, hati jenis ini hewan pun memilikinya. Jadi,,, tak ada
istimewanya.
Hati Ruhaniyyah, atau yang lebih di kenal dengan sebutan Bathin/Qalbu, yaitu sesuatu yang halus. Rasa. Krasa. Rumangsa. Ngrasakake anane Rasa, yang bisa mengerti, mengetahui, memahami. Dinilai juga dengan Hati/Latifah Rabaniyyah. Hati/Latifah Ruhaniyyah inilah, yang merupakan tempat iman dan tempat mengenal diri. Sebagaimana firman Dzat Maha Suci yang
mengatakan “Tidak akan cukup menanggung untuk-Ku, bumi dan langit-Ku, tetapi cukup bagi-Ku, hanyalah hati (qalb) qalbu hamba-Ku yang Suci/Bersih”
Hati orang-orang beriman adalah Baitullah (Rumah
Allah) artinya ya Dzat Maha Suci itu sendiri. Ruhul Amin dan Ruhul awwal atau qudsiyah, adalah bukti kebenaran nyatanya Dzat Maha Suci dalam diri manusia. Dzat Maha Suci adalah sumber cahaya langit dan bumi dan Ruhul Amin adalah sunber cahaya yang ada
dalam hati/qalbu yang digambarkan sebagai pelita, Sebagaimana firman-Nya dalam surah (An Nuur. Ayat. 35) yang Artinya;
Dzat Maha Suci (Allah/Gusti/Tuhan), adalah cahaya
langit dan bumi. Perumpama’an cahaya-Nya, adalah seperti sebuah lubang yang tak
tertembus oleh apapun dan dengan apapun, yang di dalamnya ada pelita besar.
Pelita ini di dalam kaca dan kaca ini seakan-akan bintang yang memantulkan
cahaya seperti mutiara. Sedangkan ruhul awwal atau qudsiyah atau sedulur papat
atau diri, adalah sarana untuk mengenalnya, mengetahuinya. He he he . . . Edan
Tenan.
Namun sayang seribu kali sayang. Kebanyakkan manusia
sa’at ini, menganggap dan beranggap bahwa Hidup itu, hanyalah cukup makan,
bergerak, mencari kemewahan, bekerja dan lain-lain nya itu, mereka mengangap
bahwa jasad kasar mereka itu, hidup dengan sendiri nya, yang membolehkan mereka
melakukan kerja-kerja harian mereka itu, sehingga mereka tak ada pernah ada
waktu untuk berfikir, bahwa jasad mereka itu, sebenar nya hanyalah benda mati,
yang tidak dapat hidup dan bergerak dengan sendirinya, jika tanpa ada
sesuatu yang menghidupkan-nya.
Mereka kira, mereka bisa punya istri cantik, karena
mereka tampan, mereka bisa kaya, karena mereka giyat bekerja/berbisnis, mereka
bisa beribadah, kerena mereka punya ilmu pengalaman agama, mereka bisa menyebut
Allah bisa berdoa, karena mereka khusyu’, mereka bisa itu dan ini karena mereka
sehat dll. Padahal,,, tanpa adanya yang menggerakan di dalam dirinya. Yaitu
Hidup. Mereka tidak ubahnya seonggok mayat calon santapan cacing tanah.
Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian....
Ketahuilah dengan sadar,
tanpa yang hidup itu jasad tidak ada arti-nya. Tetapi benda mati ini lah yang
dijaga dan diutamakan oleh kebanyakan orang di dunia ini. Sedangkan semua tahu
bila mati kelak, jasad akan busuk dan di tanam atau di bakar. Ini menunjukkan
mati iyalah bila hidup yang menghidupkan jasad tadi meninggalakan jasad.
Lalu,,, dimanakah letaknya yang di sebut hidup itu?
Bukankah di beberapa artikel saya sudah pernah saya
jelaskan...?! dan diatas ini tadi juga saya jelaskan, kok masih bertanya,
baiklah jika masih belum paham juga, asalkan tidak bosan membacanya, sayapun
bersemangat menjelaskannya.
Hidup adalah yang mana dengan adanya yang hidup itu, jasad
kita ini bisa hidup, dan sebenarnya ia diam di dalam jasad kita sendiri,
dan dialah yang di panggil "DIRI" sebenarnya
"DIRI" dan menghidupkan jasad kita ini. Tapi pernah kah
kita terpikir dan berpikir tentang "DIRI" itu atau
mencoba mencari dan mengenalnya.
Tentunya soal yang akan timbul adalah dari mana
"DIRI" itu, dimana letaknya "DIRI" itu, terdiri dari apakah
"DIRI" itu, dan kemanakah perginya "DIRI" itu, apabila
jasad mati atau dengan lain perkataan "DIRI" meninggalkan jasadnya...?! dan
yang penting sekali bolehkah kita mengenal "DIRI" sebenar
"DIRI" kita itu.
Barang siapa mengenal dirinya. Niscaya akan mengenal
Tuhan-nya. Benarkah bila kita mengenal "DIRI" maka kita akan mengenal
Tuhan...?! Pertanya’an-Pertanya’an ini, tidak akan muncul dan timbul jika
memahami penjelasan saya diatas. Karena itu, toto titi surti ngati-atilah dalam
membaca, gunakan Rasamu, jangan gunakan perasa’anmu. Biyar ngerti dan paham
benar dalam mengahayati/membaca. Akan saya coba ulas sekali lagi, kalau masih
bingung juga, ya,,, entahlah, saya harus menjelaskannya dengan cara apa.
Mungkin memang kita harus salin berhadapan secara langsung untuk mengungkapnya.
Kita semua tahu bukan, bahwa wujudnya yang Ruh,
artinya tidak kasat mata, hanya dapat di rasakan adanya, namun tidak
terlihat. Tak seorangpun bisa dan dapat menafikan kenyata’an ini, Kerana
semasa Dzat Maha Suci bertanya kepada sekelian Ruh "siapa kah
Tuhan kamu" dengan sepontan sekelian Ruh menjawab, bahkan yang membawa
makna merekapun, telah mengenal Tuhan yang Esa.:.
Sekelumit Kisah Ruh memasukki jasad/raga Adam;
Setelah jasad Adam terbaring, maka Tuhan telah
memerintahkan Ruh memasuki jasad Adam, tetapi sebelum itu, Ruh telah
bertanya "dimanakah aku harus masuk, ya Tuhanku" dan Dzat
Maha Suci menjawab, "masuk lah dari manapun yang kamu senangi" Maka
masuk lah Ruh melalui hidung dan dengan itu maka bernafaslah kita melalui
hidung.
Ini menunjukkan bahwa sesudah Ruh memasuki badan, maka
barulah bermulanya kehidupan bagi jasad, dan terbukti di sini, bahwa Ruh-lah
yang dikatakan penghidup jasad, dan yang mematikan jasad, apabila Ruh keluar dari
jasad, jika sudah sampai ajalnya.
Apakah maksud dihidupkan dan bahagian mana pak WEB...?!
Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian.
Ketahuilah dengan sadar. Jasad/raga/wujud kasar kita ini, terdiri dari dua hal
yaitu:
Hal yang Pertama Dihidupkan;
Yang dihidupkan adalah Jasad/Raga kasar kita ini.
Jasad/Raga kita di hidupkan oleh "Ruh", yang berada di dalam Jasad/raga kita. Ruh
memasuki jasad/raga kita, semasa kita berumur 100 hari dalam rahim ibu kita.
"Aku tiupkan sebagian dari Ruh-Ku" Dzat Maha Suci berfirman. Sejak
itulah kita hidup di dalam rahim ibu kita, dan kemudian di lahirkan kedunia,
dan terus menjalankan kehidupan dari bayi hingga akhir hayat kita.
Hal yang kedua Menghidupkan;
Yang menghidupkan jasad/raga kita iyalah Ruh, yang
datangnya/asalnya dari Dzat Maha Suci, bukan dari selain-Nya, yang memasuki
jasad/raga dan terus hidup, tugas Ruh adalah menghidupkan jasad, tetapi sayangnya,
jasad/raga tidak bisa langsung berpikir, bahwa Ruh- lah
yang hidup sebenar-benarnya hidup, dan menghidupkan jasad/raga, yang
bila mana Ruh, meninggalkannya, maka
matilah dia, dari sebutan orang/manusia, dan di tanam atau di bakar.
Mati adalah bila Ruh meninggalkan Jasad/Raga. Jadi,,,
siapakah yang berkepentingan disini...?!. Tentunya jasad/raga, kerana tanpa Ruh,
maka jasad/raga tidak bermakna langsung. Jasad perlukan Ruh, untuk bisa hidup
di dunia ini, tapi kenapa Ruh tidak di pedulikan semasa hidup nya.
Perlukah Ruh di kenali..?! Jawabannya adalah “YA”
Karena Ruh-lah yang menjadikan kita bisa itu dan ini. Karena Ruh-lah kita bisa
Hidup. Ruh itulah guru sejati kita, yang akan menuntun dan menjamin hidup mati
dan dunia akherat kita. Masih ingat dengan Wejangan saya...?! “Galilah rasa
yang meliputi seluruh tubuhmu, karena di dalam tubuhmu, ada firman Tuhan, yang
dapat menjamin hidup mati dan dunia akheratmu”
Tapi.... Sebelum mengenali Ruh, haruslah
kita mengenal "DIRI" terlebih dulu. Karena mustahil kita bisa
mengenal Ruh, tanpa mengenali Diri terlebih dulu. Sebab hanya diri kita, yang bisa mengenal Ruh. Barang siapa mengenal
dirinya. Niscaya akan mengenal Tuhan-nya.
Apakah DIRI itu...?! Diri adalah ruh, yang lebih kita
kenal dengan sebutan sedulur papat, kalau dalam istilah spiritualnya, disebut mutmainah,
aluamah supiyah dan amarah, kalau dalam istilah agamanya, disebut sebagai
jibrail, mikail, ijroil dan isrofil. DIRI" itu, atau sedulur papat itu. Datang kemudian, setelah Ruh memasuki jasad.
Bagaimana kejadiannya...?!
Seperti ini Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku
sekalian...
Apabila Ruh berada di dalam Jasad/Raga, maka
perkembanganlah cahaya Ruh itu, yang memenuhi bagian dalam Jasad/Raga, secara
keseluruhan, ini yang menyebabkan wujudnya "Diri"
yang berupa saperti jasadnya itu, memenuhi ruang dalam jasadnya.
Mungkin ada yang pernah mendengar pengakuan seorang ahli spiritual, yang
bercerita, dalam semedinya atau berdzikir, bertemu dengan wujud yang menyerupai
jasad/raganya. Itulah sebenar-benarnya “DIRI”
Diri ini, memiliki empat bagian. Diri atau sedulur
papat dalam istilah keilmuannya, atau mutmainah, aluamah supiyah dan amarah
dalam istilah spiritualnya, atau jibrail, mikail, ijroil dan isrofil dalam istilah
agamanya. Berasal dari empat anasir, yaitu air, angin, api dan intisari bumi.
Bukan dari Dzat Maha Suci. Wujud Diri ini, sama persis dengan jasad/raga kita.
Dan masing-masing memiliki tempat dan ciri warna sendiri-sendiri yang sangat khass.
Mut’mainah, berwarna putih, bertempat pada kawah/ketuban. Alu’amah, berwarna kuning, bertempat pada ari-ari. Amarah,
berwarna merah, bertempat pada darah. Dan Supiyah, berwarna hitam,
bertempat pada puser/pusar/wudel. Jika sedulur papat ini, manunggal menjadi satu kesatuan, maka tersebutlah
ruh atau diri, atau jati diri manusia hidup.
Dengan menyatunya atau manunggalnya sedulur papat inilah, wujud Diri sebenar-benarnya Diri, yang rupa dan
wujudnya sama persis dengan jasad/raga kita, dan DIRI inilah, yang harus
di kenal pada awalnya, sebelum mengenal Ruh/Hidup yang akan menjadi Guru Sejati
kita, karena dengan mengenalnya, dia mau menyatu/manunggal menjadi satu
kesatuan, jika tidak di kenali, mereka berempat akan berpecah belah,
masing-masing salin berebut benar, hingga memusingkan isi kepala kita.
(kenalilah diri, maka akan mengenal Tuhan) Maksudnya,
kenalilah sedulur papatmu, agar mereka manunggalkan atau bersatu menjadi satu
kesatuan, jika sedulur papatmu sudah manunggal/menyatu, maka Ruh/Hidup atau
Guru Sejatimu akan menuntunmu kehadirat Dzat Maha Suci, dan pasti kau akan
mengenal-Nya.
Lalu... Bagaimana cara mengenal Diri Sebenar-Benarnya
Diri itu Pak WEB...?!
Ada berbagai cara dan kaedah digunakan untuk mengenal
Diri ini, bergantung kepada perguruan/padepokan/pesantren dan kaedah guru-guru Pembmbing
yang mengajari Para santri/ muridmuridnya. Semua perguruan/padepokan/pesantren
ini, benar dan betul, apapun cara yang
digunakannya, yang penting tujuannya satu, yaitu untuk mengenal Diri sebenar
"DIRI". Dan kita punya hak untuk memlihnya. Mana yang sekiranya mampu
kita lakukan.
Untuk mengenal DIRI, ada tiga cara. Pertama... Terbuka
dengan sendirinya karena ilham/wahyu. Kedua.... Usaha sendiri untuk membukanya,
dengan cara lelaku, puasa, bertapa, berdzikir, semedi dll. Ketiga... Dibukan
oleh guru. (Pembimbing yang sudah berpengalaman soal Diri Sejati).
Apakah yang di maksudkan dengan dibuka pak WEB...?!
Di buka, maksudnya iyalah membukakan jalan-jalan pancaran
cahaya Diri itu, hingga keluar dari jasad/raga dan terpancarlah cahaya Diri itu,
keluar dari jasad/raga, melalui jalan-jalannya dan dengan rasa yang bergetar getar pada jalan
keluarnya, rasa ini dapat dirasakan dengan nyata oleh murid-murid yang mempelajari
Bab Diri ini. Inilah yang di maksud “ASMO”. Dalam istilah Wahyu Panca Gha’ib.
Inilah rahasia hidup kita,
dan Diri inilah, yang digunakan untuk mengenali Ruh. Ruh menghidupkan jasad/raga,
selagi ada hayatnya di dunia ini. Ruh atau Guru Sejati ini harus di kenal dan
dirasakan sepenuhnya oleh kita, dengan sarana Diri atau sedulur papat. kerana
ia mengandung dan memegang banyak rahasia Dzat Maha Suci, dan serba guna, baik di
dunia maupun di akhirat. “Galilah rasa yang meliputi seluruh tubuhmu, karena
di dalam tubuhmu, ada firman Tuhan, yang dapat menjamin hidup mati dan dunia
akheratmu”
Kenal kah Diri itu dengan
Ruh...?! Sudah tentu Kenal. Lalu... Kenalkah Ruh kepada Tuhan-nya...?! Sudah Pasti kenal, kerana dia datang dan
berasal dari Tuhan, dari Dzat Maha Suci Pencipta dan Pemilik asal usulnya semua
dan segalanya.
Banyak lagi manfaat yang
akan timbul apabila kita dapat mengenal Diri, yang tersebut Sedulur Papat
kita ini. Terutama yaitu Diri yang sebenar-benarnya Diri kita atau ruh
kita, kita harus belajar dari Diri/ruh, untuk bisa mengenal Ruh yang
menghidupkan jasad/raga kita ini, yang menjadikan kita bisa itu dan ini.
Dia mengetahui, kerana dia
datang dari yang MAHA mengetahui. Dia bijaksan, kerana dia datang dari yang
MAHA bijaksana. Dia lah sebaik-baiknya Guru, kaena dia adaah guru sejati.
Kehidupan sebenarnya adalah
di dalam, karena itu, masuklah kedalam, jangan keluar jika hendak mencari jati
diri, guru sejati dan Dzat Maha Suci yang Maha dari segala yang Maha.
Kesimpulan Merdeka;
Kenalilah Dirimu/ruhmu/sedulur papatmu, jika ingin
mengenal Ruh/Hidup/Guru Sejatimu. Kenalilah Ruh/Hidup/Guru Sejatimu, jika ingin
mengenal Dzat Maha Suci Tuhan-mu. Silahkan dengan cara apapun yang kalian suka
dan bisa, apakah dengan ilmu, kebatinan, kejawen, perguruan, agama, golongan,
kepercaya;an, politik atau Laku Wahyu Panca Ghaib. Apapun boleh, karena itu
HAM, jadi,,, terserah. Yang penting kita suka dan bisa serta mau menjalankannya
dengan benar dan sungguh-sungguh. Bukan hanya sekedar katanya saja. Atau
ikut-ikutan karena ego dan gengsi. Sebab lelaku atau usaha Mengenal Diri atau
Jati Diri, adalah suatu HAM. Artinya, pengetahuan yang harus di ketahui oleh
semua orang/manusia hidup tanpa terkecuali, kerana tiap-tiap manusia hidup, membawanya
di dalam jasad kasar mereka masing-masing.
“Barang siapa mengenal dirinya. Niscaya Akan
Mengenal Tuhan-nya”
Kalimat yang sederhana diatas, bermaksud seperti ini
"kenali dirimu, maka akan mengenal Tuhanmu" sederhana bukan, namun jangan
menyederhakan, karena kalimat ini, merupakan sebuah sabdanya HIDUP. Harus kah penghidup jasad kita ini, kita biarkan begitu saja, tanpa
mengenali dan merasakannya bukti nyatanya...?! Hanya semasa maut hampir datang
menjemput, baru kita sadar dan sambat sumbut, bahwa dia akan meninggalkan
jasad/raga kita. He he he . . . Edan Tenan.
Bahasa
Spiritualnya; “Barang siapa mengenal dirinya. Niscaya Akan Mengenal Tuhan-nya” Bahasa kitab-nya; "Man arofa nafsahu faarofa
robbahu" Kalau bahasa Wong Edan Bagu-nya;
“Galilah rasa yang meliputi seluruh tubuhmu. Karena didalam
tubuhmu. Ada firman Tuhan. Yang dapat menjamin. Hidup mati dan dunia akheratmu”
Duh... Gusti Ingkang Moho Suci.
Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan,
sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai.
Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan,
kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat
orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari
akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi.,
dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak
ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi
dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.
Damai... Damai... Damai Selalu
Tenteram. Sembah
nuwun,,, Ngaturaken
Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring
Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa
terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom
Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup....._/\_..... Aaamiin...
Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd:
Wong Edan Bagu
Putera
Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 - 6179 - 9966
http://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com
Post a Comment