ILMU PELAJARAN MENGENAL "DIRI" (Guru Sejati/Hidup/Rasa/Allah) DENGAN WAHYU PANCA GHA’IB:
ILMU PELAJARAN MENGENAL
"DIRI" (Guru Sejati/Hidup/Rasa/Allah)
DENGAN WAHYU
PANCA GHA’IB:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Djawa dwipa. Hari Senin Kliwon. Tgl 07
Desember 2015
Para Sedulur Dan Kadhang Kinasih saya
sekalian...
Ada suatu pasal yang di rahasiakan oleh
hampir semua Guru/Pembimbing pada murid/anak didiknya, karena suatu alasannya
yang masuk akal.
Pertama; Karena pintu guru sejati itu,
tersembunyi, jadi, tidak bisa dan tidak boleh asal sembrono mengajarkannya.
Kedua; Perlu dan Butuh dasar ilmu
pengertian yang lebih dari cukup, sebelum mempelajarinya, karena jika tidak,
tidak akan pernah bisa paham dan mengerti. Bahkan bisa gila/sterss, kalau tidak
gila/stress. Sang Guru/Pembimbing, bisa di cap Sesat oleh murid/anak didiknya.
Sebab itu, tidak diajarkan kepada
orang-orang yang belum pernah, belajar tentang Ilmu Tauhid atau Sifat 20 (dua
puluh). Kenapa bisa begitu? Sebab, perihal ini, berisi ilmu-ilmu khusus
pelajaran mengenal diri atau tata cara mengenal Hyang Maha Suci Hidup/Allah,
sang pencipta Alam dan segala isinya.
Tujuannya, supaya sempurna segala amal
ibadahnya. Maksudnya, tidak melangkahi kodrat dan irodatnya sebagai manusia
wajar. Tentangnya, saya akan mewedarnya dengan terbuka, blak kotak tanpa tedeng
aling-aling apapun. Terserah Anda, mau menyebut saya sesat atau kafir. Karena,
inilah kenyata’annya, inilah kebenarnya, yang berhasil saya dapatkan, dan.
Silahkan di buktikan sendiri, jika tidak percaya.
Para Sedulur Dan Kadhang Kinasih saya
sekalian... Ketahuilah tanpa yang hidup, jasad tidak ada arti nya. Tetapi benda
mati ini lah, yang dijaga dan diutamakan oleh kebanyakan orang di dunia ini.
Sedangkan semua tahu bila mati kelak, jasad akan busuk dan di tanam atau di
bakar. Ini menunjukkan, mati ialah bila hidup yang menghidupkan jasad tadi,
meninggalakan jasad.
Kebanyakkan manusia
pada umumnya, menganggap bahwa "Hidup" didunia ini, itu hanyalah
cukup makan, bergerak, mencari kemewahan, menyelesaikan kepentingan, mencukupi
kebutuhan dan keperluan, bekerja dll, mereka mengangap bahwa jasad kasar mereka
itu, hidup dengan sendirinya, yang membolehkan mereka melakukan kerja, kerja
harian mereka itu, tapi pernah kah mereka terfikir bahwa jasad mereka itu
sebenarnya, ialah benda mati yang tidak dapat hidup dan bergerak dengan
sendirinya, tanpa ada sesuatu yang menghidupkan nya?
Dimanakah
letaknya yang di panggil hidup itu? Yang mana dengan adanya yang hidup itu lah
jasad kita ini hidup dan sebenarnya ia diam di dalam jasad kita
sendiri, dan dia lah yang di panggil "DIRI" sebenar
"DIRI" dan menghidupkan jasad kita ini. Tapi pernah kah
kita terfikir tentang "DIRI" itu ataucuba mencari dan mengenal
nya.
Tentunya, soal
yang akan timbul ialah dari mana "DIRI" itu, dimana letaknya
"DIRI" itu, terdiri dari apakah "DIRI" itu, dan kemanakah
perginya "DIRI" itu, apabila jasad mati atau dengan kata lain "DIRI"
meninggalkan jasad??? dan yang paling penting sekali, bolehkah
kita mengenal "DIRI" sebenar-benarnya "DIRI" kita itu.
BARANG SIAPA
MENGENAL "DIRI"
NISCAYA KENAL
LAH IA AKAN TUHAN NYA:
Benarkah bila
kita mengenal "DIRI" maka kita akan mengenal Tuhan ??
Kita semua tahu
bukan, bahwa ujudnya Roh! Tidak ada seorangpun, yang dapat menafikan
kenyataan ini, Karena semasa Hyang Maha Suci bertanya kepada sekelian
Roh " siapa kah Tuhan kamu " dengan sepontan sekelian Roh
menjawab " bahkan " yang membawa makna merekapun telah mengenal Tuhan
yang esa.:
Kisah Roh
memasukki jasad Adam;
Setelah jasad
Adam terbaring, maka Hyang Maha Suci Hidup telah memerintahkan Roh memasukki ke
jasad Adam, tetapi sebelum itu, Roh telah bertanya " dimanakah
harus aku masuki, ya ALLAH " dan ALLAH pun menjawab "
masuk lah kemana saja yang kamu senangi " Maka, masuk lah Roh
melalui hidung dan dengan itu maka bernafaslah kita melalui hidung.
Ini menunjukkan
bahwa sesudah Roh memasuki badan, maka barulah bermulanya kehidupan kepada
jasad, dan terbukti di sini bahwa Roh-lah yang dikatakan penghidup kepada
jasad, dan mati pada jasad ialah apabila Roh keluar, apabila sampai ajalnya tiba.
Jasad kasar
kita ini terdiri dari 2 yaitu:
1. Dihidupkan;
Apakah maksud
dihidupkan dan bahagian mana yang dihidupkan?
Yang dihidupkan
ialah Jasad kasar kita ini, ia-nya di hidupkan oleh ""Roh""
yang berada di dalam Jasad. "Roh" memasukki jasad semasa kita 100
hari dalam rahim ibu kita. "Aku tiupkan sebagian dari Roh ku" begitulah
kata firman Allah. Sejak itu lah kita hidup di dalam rahim ibu kita dan
kemudian di lahirkan kedunia dan terus menjalankan kehidupan dari bayi hingga akhir
hayat.
2. Menghidupkan;
Yang
menghidupkan ialah Roh, yang datangnya (diciptakan) dari Hyang Maha Suci Hidup,
yang memasuki jasad dan terus Hidup, tugas Roh ialah, menghidupkan jasad,
tetapi sayang-nya, jasad tidak langsung terfikir bahwa Roh-lah
yang Hidup sebenar-benarnya Hidup dan menghidupkan jasad yang bila
mana Roh meninggalkan-nya, maka matilah dia dan di sebut mayat orang lalu di
tanam atau di bakar.
MATI IALAH APABILA ROH MENINGGALKAN JASAD;
Jadi,,,
siapakan yang berkepentingan disini, tentunya jasad, karena tanpa Roh, maka
jasad tidak bermakna langsung. Jasad kita perlukan Roh, untuk Hidup, tapi
kenapa Roh tidak dipedulikan sama sekali semasa hidup nya?
Perlukah Roh di
kenali?
Tentu sangat
perlu dong.... Kan peran pentingnya, sudah saya uraikan diatas. Tapi....
Sebelum
mengenal Roh haruslah kita mengenal "DIRI"
BARANG SIAPA MENGENAL "DIRI"
MAKA KENALLAH DIA AKAN TUHAN NYA:
APA KAH "DIRI"
ITU"
Untuk semua
ilmu pengetahuan, bahwa "DIRI" itu datang kemudian, setelah Roh
memasukki jasad, mengapa bisa begitu?
Apabila Roh
berada di dalam Jasad, maka perkembangan cahaya Roh itu yang memenuhi dalaman
Jasad keseluruhan-nya, ini telah menyebabkan ujudnya "Diri"
yang berupa saperti jasad-nya, memenuhi ruang dalaman jasad-nya.
Maka ujudlah "Diri" sebenar-benarnya "Diri" dan
"DIRI" ini lah yang harus di kenal. (kenal lah Diri,
maka kenal Tuhan)
BAGAIMANA MENGENAL
"DIRI" SEBENAR-BENARNYA "DIRI"
Ada berbagai
cara dan kaedah digunakan untuk mengenal "DIRI" ini. Namun hanya satu
yang bisa menjamin bisa, tepat, pas sasaran, yaitu Wahyu Panca Gha’ib. Namun, bukan berati yang lain itu tidak
benar, hanya saja, tidak bisa menamin tepat dan pas pada sasarannya, itu saja.
Kenapa tidak
bisa tepat dan pas pada titik finis yang menjadi sasarannya?
Karena, selain
adanya campuran dan embel2x yang bertentangan dengan hal tersebut, setinggi dan
sehebat apapun ajarannya, pasti di bagian akhirnya, terkata; Wollahu alam wabi
insya Allah. Tapi Wahyu Panca Gha’ib, tidak begitu, karena yang digunakan oleh
Wahyu Panca Gha’ib, ya Roh itu sendiri, ya Diri itu sendiri, bukan yang
lainnya. Jadi, mustahi dan tidak mungkin melesed.
Semua perguruan
dan padepokan atau golongan dan aliran apapun itu betul, dan ilmu apapun yang
digunakannya juga benar. Hanya saja, mereka enggan, bahkan tidak mau telanjang,
istilahnya. Dalam artian, di campuri dengan sesuatu yang dapat menghilangkan
kemurnia dari ilmu yang digunakannya, ini lo, yang membuat jadi tidak tepat
alias tidak pas bin melesed.
Untuk mengenal
"DIRI" ini, ada 3 jalan atau cara:
Terbuka dengan
sendiri nya.
Berusaha
sendiri untuk membukanya.
Dibukakan oleh
guru. (guru guru yang berpengalaman)
Intisari
patinya, adalah dibuka/buka.
Apa maksud dari
dibukakan “buka”
Di buka
maksudnya, ialah; membukakan jalan-jalan pancaran cahaya "DIRI" itu,
hingga keluar dari jasad dan terpancarlah cahaya "DIRI" itu, keluar
dari jasad, melalui jalan-jalannya dan dengan Rasa yang bergetar-getar pada
jalan keluarnya, Rasa ini dapat dirasakan dengan nyata, oleh murid-murid/pelaku
belajar, yang mempelajari hal ini.
Ini adalah rahasia Hidup kita dan "DIRI"
Ini adalah yang menghidupkan jasad, selagi ada hayatnya di dunia ini,
"DIRI" ini, harus di kenal dan dirasai sepenuh nya oleh kita, karena
ia mengandungi banyak rahsia dan serba guna, multi fungsi di dunia dan akhirat.
Kenal kah "DIRI" tadi kepada Tuhan nya?
Sudah tentu, karena dia datang dari sana, dari Hyang Maha Suci Hidup,
Sang pencipta dan yang Maha Kuasa diatas segala yang Maha.
Banyak lagi, persoalan yang akan timbul, apabila kita dapat mengenal
"DIRI" kita yang sebenar- benarnya "DIRI" ini, kita harus
belajar dari "DIRI" ini sendiri, bukan yang lain, selain “DIRI” ini
sendiri.
Dia mengetahui, karena dia datang dari yang MAHA mengetahui.
Dia bijak, karena dia datang dari yang MAHA bijaksana.
Dia kuasa, karena dia datang dari yang MAHA kuasa.
Dia lah sebaik-baiknya Guru, karena dia datang dari yang MAHA guru.
Kehidupan sebenarnya, ada di dalam, karena kehidupan datang setelah
kita Hidup.
Kesimpulan-nya;
Kenali lah "DIRI"
kita ini, karena, dia-lah sebenar-benarnya "DIRI" dan utamakan lah
dia dalam segala urusan kita di dunia ini, sambil menunggu surat undangan dari
Hyang Maha Kekal Abadi, jangan lupakan itu, kerana dia kekal karena di
kekalkan.
Ilmu Pengetahuan
Mengenal "DIRI" adalah satu-satunya ilmu pengetahuan yang wajib dan harus
di ketahui oleh semua manusia hidup, tanpa terkecuali, tidak peduli agama dan
latar belakang apapun, karena tiap-tiap
manusia hidup, membawanya di dalam jasad kasar mereka, harus kah penghidup
jasad kita ini, kita biarkan begitu saja, tanpa mengenali dan merasakan nya,
hanya semasa maut hampir datang menjemput, baru kita sadar, bahwa dia akan
meninggalkan kita?????
Wahai Para
saudara-saudariku sekalian, sudah Anda mengenal “DIRI” Anda dengan
sebenar-benarnya Diri Anda?
Wahai para
Kadhang Konto dan Kantiku sekalian, sudah kah Anda Mengetahui “HIDUP” Anda
dengan sebenra-benarnya Hidup Anda?
TIADA
AKU, HANYA ALLAH ...
TIADA AKU, HANYA ALLAH...
Kita kembali kepada Pokok semula yaitu, mencari DIRI SENDIRI yang berdiri dengan sendirinya itu.
Setelah kita dapat MENEMUI JALANNYA PERNAFASAN kita yang turun naik itu yang berasal dari dalam, maka DENGAN MEMATIKAN SEGALA TENAGA kita yang ada, kita COBA MENURUT TURUN NAIKNYA PERNAFASAN kita itu, dengan pengertian kita MULAI MEMAKAI atau MENGGUNAKAN TENAGA DARI DALAM yaitu TENAGA YANG MENYEBABKAN TURUN NAIKNYA PERNAFASAN kita.
Lancarnya latihan kita dan sampai kepada MENINGKATNYA PERGERAKAN yang dibawakan oleh DAYA TENAGA YANG BERASALKAN DARI JALANNYA PERNAFASAN kita bergantung kepada pandainya kita membawakannya. Untuk dapat membawakan sampai mengerti, ialah pandainya kita MENYERAHKAN SEGALA SESUATU apa yang ada pada kita KEPADANYA iaitu pada YANG BERDIRI DENGAN SENDIRINYA itu.
DIA akan bebas bergerak, kalau apa yang ada pada kita teleh dipunyainya dan dikuasainya, dengan pengertian kalau tadinya kita menganggap Dia kepunyaan kita, maka adalah sebaliknya yang terjadi yaitu JADIKAN KITA MENJADI KEPUNYAANNYA.
Setahu kita, DIA telah ada bersama kita dan adalah Dia itu kepunyaan kita, KARUNIA atau ANUGERAH yang Maha Esa lagi Maha Besar kepada kita. DIA datang dariNYA dan akan kembali kepadaNYA pula. Dan adalah kedatangannya kepada kita untuk Kesempurnaan Kejadian kita. Dan tidaklah sempurna kita rasanya, kalau kita tidak mengetahui, mengenal dan MENEMUInya.
Adalah DIA langsung dari Yang Maha Esa dan adalah keadaan kita dijadikan dari yang telah dijadikan. Tingkatnya juga lebih tinggi dari kita kerana DIA ASLI ( original ) dan kita dari yang dijadikan, sesungguhnya yang menjadikan kita itu Tuhan Yang Maha Esa juga.
Satu ASAL, tetapi berlainan KE-ADA-AN. DIA ada tetapi tiada, kita ada dan nyata, DIA yang telah berada bersama kita, bahkan terkandung didalam batang tubuh kita, kenapa kita tidak dapat menemuinya ? Tuhan telah memberikannya kepada kita untuk HIDUP bukan untuk MATI.
Jadi nyatalah sudah ada KELEBIHANNYA dari kita dan Rahasia Hidup dan kehidupan kita padanyalah LETAKNYA. Dan kalau kita ingin hidup bahagia, tentu DIA MESTI KITA CARI dan KITA TEMUI, seperti telah dikatakan diatas, PADANYALAH TERLETAK RAHASIA HIDUP itu.
Untuk mengetahui dan MENEMUInya tentu lebih dahulu harus kita pecahkan soal antara kita dengan DIA dengan jalan MEMISAHKAN YANG SATU DENGAN YANG LAIN, yaitu antara BADAN dan DIRI atau antara DIA dan AKU.
Kita kembali kepada Pokok semula yaitu, mencari DIRI SENDIRI yang berdiri dengan sendirinya itu.
Setelah kita dapat MENEMUI JALANNYA PERNAFASAN kita yang turun naik itu yang berasal dari dalam, maka DENGAN MEMATIKAN SEGALA TENAGA kita yang ada, kita COBA MENURUT TURUN NAIKNYA PERNAFASAN kita itu, dengan pengertian kita MULAI MEMAKAI atau MENGGUNAKAN TENAGA DARI DALAM yaitu TENAGA YANG MENYEBABKAN TURUN NAIKNYA PERNAFASAN kita.
Lancarnya latihan kita dan sampai kepada MENINGKATNYA PERGERAKAN yang dibawakan oleh DAYA TENAGA YANG BERASALKAN DARI JALANNYA PERNAFASAN kita bergantung kepada pandainya kita membawakannya. Untuk dapat membawakan sampai mengerti, ialah pandainya kita MENYERAHKAN SEGALA SESUATU apa yang ada pada kita KEPADANYA iaitu pada YANG BERDIRI DENGAN SENDIRINYA itu.
DIA akan bebas bergerak, kalau apa yang ada pada kita teleh dipunyainya dan dikuasainya, dengan pengertian kalau tadinya kita menganggap Dia kepunyaan kita, maka adalah sebaliknya yang terjadi yaitu JADIKAN KITA MENJADI KEPUNYAANNYA.
Setahu kita, DIA telah ada bersama kita dan adalah Dia itu kepunyaan kita, KARUNIA atau ANUGERAH yang Maha Esa lagi Maha Besar kepada kita. DIA datang dariNYA dan akan kembali kepadaNYA pula. Dan adalah kedatangannya kepada kita untuk Kesempurnaan Kejadian kita. Dan tidaklah sempurna kita rasanya, kalau kita tidak mengetahui, mengenal dan MENEMUInya.
Adalah DIA langsung dari Yang Maha Esa dan adalah keadaan kita dijadikan dari yang telah dijadikan. Tingkatnya juga lebih tinggi dari kita kerana DIA ASLI ( original ) dan kita dari yang dijadikan, sesungguhnya yang menjadikan kita itu Tuhan Yang Maha Esa juga.
Satu ASAL, tetapi berlainan KE-ADA-AN. DIA ada tetapi tiada, kita ada dan nyata, DIA yang telah berada bersama kita, bahkan terkandung didalam batang tubuh kita, kenapa kita tidak dapat menemuinya ? Tuhan telah memberikannya kepada kita untuk HIDUP bukan untuk MATI.
Jadi nyatalah sudah ada KELEBIHANNYA dari kita dan Rahasia Hidup dan kehidupan kita padanyalah LETAKNYA. Dan kalau kita ingin hidup bahagia, tentu DIA MESTI KITA CARI dan KITA TEMUI, seperti telah dikatakan diatas, PADANYALAH TERLETAK RAHASIA HIDUP itu.
Untuk mengetahui dan MENEMUInya tentu lebih dahulu harus kita pecahkan soal antara kita dengan DIA dengan jalan MEMISAHKAN YANG SATU DENGAN YANG LAIN, yaitu antara BADAN dan DIRI atau antara DIA dan AKU.
Latihan yang kita bawakan dengan
mematikan badan sebelum mati sebenarnya mendatangkan PERMULAAN dan PERPISAHAN,
kerana dengan perbuatan kita itu, maka tinggallah YANG HIDUP.
Perbuatan kita dengan latihan itu ialah kita meninggalkan YANG HIDUP oleh karena kita hendak mengetahuinya dalam KE – ADA-AN yang sebenarnya. Sebelum kita dapat menemui dan MENGUASAInya kita tidak dapat yang sebenarnya.
Untuk itu hendaklah kita TERUS BERLATIH dan BERLATIH mencarinya SAMPAI ADA PANCARAN KELUAR DARI UJUNG JARI JARI kita. Dengan telah dapatnya kita MERASAKAN PANCARAN YANG KELUAR DIUJUNG JARI JARI kita itu berarti DINDING TELAH TEMBUS dan RAHASIA TELAH TERBUKA dan tugas kita ialah MEMPELAJARInya lagi, dengan pengalaman-pengalaman yang sudah kita dapatkan itu. DIA adalah HAKMILIK kita dan tiadalah orang lain berhak atasnya. Kenapa tidak kita pergunakan Hakmilik kita Yang Amat Berharga itu?
Pendirian kita ( selama ini ) selain SALAH kerana tidak berpegang pada DIRI barang yang hidup, melainkan kepada BADAN barang yang mati. Yang TERANG ada pada kita dan yang GELAP pun ada pada kita. Kenapa berpegang kepada itu yang GELAP ? SIANG ada pada kita MALAM pun ada pada kita.
SIANG adalah TERANG dan Yang Terang adalah DIRI dan MALAM adalah GELAP dan Yang Gelap ialah BADAN. Siterang letaknya DIDALAM dan Sigelap letaknya DILUAR. MASUKKAN itu MALAM kepada SIANG dan MASUKKAN itu SIANG kepada MALAM. Datangkanlah itu YANG HIDUP dari YANG MATI dan YANG MATI dari YANG HIDUP. KELUARKANlah Yang Didalam dan KEDALAMKANlah Yang Diluar.
UNTUK itu REZEKI yang TIDAK TERDUGA-DUGA dan TERBILANG banyaknya yang akan kita PERDAPAT.
Semua orang takut mati kerana SALAH MEMAHAMI HIDUP. Dia takut ditinggalkan Hidup. Dari itu makanya dia takut mati. Mereka mereka SALAH PEGANG, salah tangkapan berpegang pada Yang Mati YANG DIANGGAPnya Yang Hidup.
Sebenarnya Hidup, tidak diperdulikannya selama ini. Bagi kita yang berpegang pada Yang Hidup, tidak akan takut mati, karena bagi kita, Yang Hidup itu mestilah TIDAK ADA MATInya. Adalah DIA itu KEKAL dan ABADI kembali menyatu bersama Hyang Maha Suci Hidup.
Pembawaan hidup mereka-mereka yang seperti itu, menuju kepada kematian dan perjalanan hidup yang di bawa menuju kepada hidup yang kekal dan abadi untuk kembali kepangkalan.
Perjalanan mereka KEBAWAH ( sedangkan ) perjalanan kita KEATAS. Mereka MENUJU KEMATIAN. Sedangkan kita MENUJU KESEMPURNA’AN YANG KEKAL dan ABADI.
Perjalanan kita SEBENARNYA, iyalah kita telah mati sebelum dimatikan, telah pergi sebelum dipanggil dan AKU telah kembali dari SANA.
Perbuatan kita dengan latihan itu ialah kita meninggalkan YANG HIDUP oleh karena kita hendak mengetahuinya dalam KE – ADA-AN yang sebenarnya. Sebelum kita dapat menemui dan MENGUASAInya kita tidak dapat yang sebenarnya.
Untuk itu hendaklah kita TERUS BERLATIH dan BERLATIH mencarinya SAMPAI ADA PANCARAN KELUAR DARI UJUNG JARI JARI kita. Dengan telah dapatnya kita MERASAKAN PANCARAN YANG KELUAR DIUJUNG JARI JARI kita itu berarti DINDING TELAH TEMBUS dan RAHASIA TELAH TERBUKA dan tugas kita ialah MEMPELAJARInya lagi, dengan pengalaman-pengalaman yang sudah kita dapatkan itu. DIA adalah HAKMILIK kita dan tiadalah orang lain berhak atasnya. Kenapa tidak kita pergunakan Hakmilik kita Yang Amat Berharga itu?
Pendirian kita ( selama ini ) selain SALAH kerana tidak berpegang pada DIRI barang yang hidup, melainkan kepada BADAN barang yang mati. Yang TERANG ada pada kita dan yang GELAP pun ada pada kita. Kenapa berpegang kepada itu yang GELAP ? SIANG ada pada kita MALAM pun ada pada kita.
SIANG adalah TERANG dan Yang Terang adalah DIRI dan MALAM adalah GELAP dan Yang Gelap ialah BADAN. Siterang letaknya DIDALAM dan Sigelap letaknya DILUAR. MASUKKAN itu MALAM kepada SIANG dan MASUKKAN itu SIANG kepada MALAM. Datangkanlah itu YANG HIDUP dari YANG MATI dan YANG MATI dari YANG HIDUP. KELUARKANlah Yang Didalam dan KEDALAMKANlah Yang Diluar.
UNTUK itu REZEKI yang TIDAK TERDUGA-DUGA dan TERBILANG banyaknya yang akan kita PERDAPAT.
Semua orang takut mati kerana SALAH MEMAHAMI HIDUP. Dia takut ditinggalkan Hidup. Dari itu makanya dia takut mati. Mereka mereka SALAH PEGANG, salah tangkapan berpegang pada Yang Mati YANG DIANGGAPnya Yang Hidup.
Sebenarnya Hidup, tidak diperdulikannya selama ini. Bagi kita yang berpegang pada Yang Hidup, tidak akan takut mati, karena bagi kita, Yang Hidup itu mestilah TIDAK ADA MATInya. Adalah DIA itu KEKAL dan ABADI kembali menyatu bersama Hyang Maha Suci Hidup.
Pembawaan hidup mereka-mereka yang seperti itu, menuju kepada kematian dan perjalanan hidup yang di bawa menuju kepada hidup yang kekal dan abadi untuk kembali kepangkalan.
Perjalanan mereka KEBAWAH ( sedangkan ) perjalanan kita KEATAS. Mereka MENUJU KEMATIAN. Sedangkan kita MENUJU KESEMPURNA’AN YANG KEKAL dan ABADI.
Perjalanan kita SEBENARNYA, iyalah kita telah mati sebelum dimatikan, telah pergi sebelum dipanggil dan AKU telah kembali dari SANA.
AKU telah MENEMUINYA setelah engkau menemui AKU dan BATAS Aku dengan DIA ialah seperti batas antara Engkau dengan Aku yaitu JAUH TIDAK BERANTARA dan DEKAT TIDAK BERBATAS. Engkau yang tadinya DINDING bagiku, untuk menghubungi dan MENEMUInya, kini telah dapat menghubungiku, dengan CARA PEMECAHANMU, maka TERBUKAlah JALAN bagiku, untuk menghubungi dan menemui NYA, karena pintu telah terbuka bagiku.
Engkau, Aku bawa serta, karena cinta kasih sayangku tertumpah padamu, dan adalah ENGKAU ITU BADANKU. Kita tidak akan berpisah kecuali kalau dipisahkan oleh Yang Maha Suci Hidup. Dari itu KUASAILAH AKU, supaya apa yang ada padaku menjadi KEPUNYAANMU.
Bagaimana cara menguasainya ? Mudah saja. Cintailah, kasihilah dan sayangilah AKU. Bagimanakah cara mencintai, mengasihi dan menyayanginya ? AKU tidak pinta apa yang tidak ada padamu, cukuplah kalau engkau SERAHKAN APA YANG ADA PADAMU KEPADAKU, dan untuk itu akan AKU serahkan pula apa yang ada padaKu, sehingga AKU menjadi kepunyaanmu dan engkau menjadi kepunyaanku.
Kedalam Engkau yang berkuasa, keluar
AKU dimuka. Tadinya sebelum engkau mengenal Aku maka adalah AKU NYAWAMU.
Setelah Engkau dapat mengenal AKU, maka tahu Engkau yang membawa AKU ini,
sangat berguna padamu. Engkau ketahui bahwa seluruh kehidupanmu BERGANTUNG
PADAKU. Setelah Engkau menemui AKU, maka Engkaulah lebih kenal padaku. AKUlah
yang akan menjadi Engkau dan Engkaulah yang akan jadi AKU. AKU dan Engkau
sebenarnya SATU dan memang kita satu. Ilmu pengetahuan yang memisahkan kita.
Dan AKUlah kita, AKU LUAR dan DALAM.
Selama ini Engkau berjalan sendiri dengan tidak memperdulikan AKU. Sekarang setelah Engkau menemui AKU, apa lagi kita telah menjadi AKU, maka kalau Engkau berjalan ikut sertakanlah AKU, dan kalau AKU berjalan akan mengikut sertakan Engkau pula. Satu arah, satu tujuan dan satu tindakan. Selama ini kita berjalan pada jalan sendiri – sendiri.
Selama ini Engkau berjalan sendiri dengan tidak memperdulikan AKU. Sekarang setelah Engkau menemui AKU, apa lagi kita telah menjadi AKU, maka kalau Engkau berjalan ikut sertakanlah AKU, dan kalau AKU berjalan akan mengikut sertakan Engkau pula. Satu arah, satu tujuan dan satu tindakan. Selama ini kita berjalan pada jalan sendiri – sendiri.
Sekarang kita kenal mengenal satu sama lain. Selapik seketidur, sebantal,
sekalang hulu, sehina, semulia, kelurah sama menurun, kebukit sama mendaki,
sikit senang sama-sama kita rasai.
Apa yang tidak ada padaKU, ada padamu dan apa juga yang tidak ada padamu ada padaku.
Engkau selama ini sudah jauh berjalan sendiri dengan tidak mengikut sertakan AKU, walaupun Aku sentiasa berada bersamamu. Dalam banyak hal AKU menderita kerana AKU yang merasakannya.
Sekarang AKU berjalan dan Engkau Aku ikut sertakan. Tugasmu hanya menurutkan dan mempelajari hasilnya untuk kita. Engkau yang tadinya tidak tahu setelah mempelajari perjalananku akan banyak mendapat yang Engkau tidak ketahui selama ini.
AKU yang berbuat, Engkau yang melakukan dan hasilnya untuk KITA. Bahagiamu terletak PADAKU dan bahagiaku padamu. AKU sangat merasa bahagia kalau yang AKU perbuat dan lakukan besertamu menghasilkan yang memuaskan.
Apa yang tidak ada padaKU, ada padamu dan apa juga yang tidak ada padamu ada padaku.
Engkau selama ini sudah jauh berjalan sendiri dengan tidak mengikut sertakan AKU, walaupun Aku sentiasa berada bersamamu. Dalam banyak hal AKU menderita kerana AKU yang merasakannya.
Sekarang AKU berjalan dan Engkau Aku ikut sertakan. Tugasmu hanya menurutkan dan mempelajari hasilnya untuk kita. Engkau yang tadinya tidak tahu setelah mempelajari perjalananku akan banyak mendapat yang Engkau tidak ketahui selama ini.
AKU yang berbuat, Engkau yang melakukan dan hasilnya untuk KITA. Bahagiamu terletak PADAKU dan bahagiaku padamu. AKU sangat merasa bahagia kalau yang AKU perbuat dan lakukan besertamu menghasilkan yang memuaskan.
Lambat laun Engkau akan mengenal AKU
yang sebenarnya. Dan adalah perbuatanku bagimu namanya ILMU. Oleh kerana Aku
GHAIB sifatnya, maka namanya ILMU GHAIB.
Rahasia kandungan telah terbuka dengan hasil dari latihan latihan yang telah kita lakukan, yaitu keluarnya pancaran yang terasa betul pada ujung KUKU kita, ujung jari jemari kita. Dan kita telah melahirkan kandungan kita sendiri.
Yang melahirkan kita dan yang dilahirkan kita pula. Kita yang telah terlahir itu ialah DIRI YANG BERDIRI DENGAN SENDIRINYA, bergerak dan berjalan dengan sendirinya, akan tetapi duduk ditempatnya.
Keluarnya dari badan kita melalui saluran saluran tertentu yang bernamakan pancaran yang setelah sanggup menebus alam sendiri akan sanggup pula menembus alam lain, kalau kita telah dapat menguasai dan mengetahui akan RAHSIANYA yang sebenarnya.
Ibu melahirkan kita sebagai seorang manusia lengkap, dengan pembawaan dan kelahiran kita, mengandung pembawaan itu untuk hidup. Untuk melanjutkan jalannya kehidupan kita, supaya dapat menikmati Kebahagiaan Hidup, maka, adalah tugas kita melahirkan kandungan kita ,yaitu pembawaan dari Rahim ibu.
Kebahagiaan hidup yang kita alami di Rahim ibu, semasa dalam kandungan ibu, iyalah dengan hidupnya bunda mengandung atau dengan dua keadaan hidup, yaitu pertama yang mengandung dan yang kedua yang dikandung.
Sebelum kita dapat melahirkan kandungan kita itu sampai akhir hayat kita, maka senantiasa akan panjanglah jalannya kehidupan kita yang kita rasai, karena melakukan hidup sendiri. Maka untuk kesempurnaan jalannya kehidupan kita, lahirkanlah kandungan sendiri. Kelahirannya mendatangkan HIDUP BARU bagi kita, dan seimbangkanlah jalannya kehidupan kita. Kita telah bertahun-tahun berjalan sendiri-sendiri, mengarungi lautan hidup yang tidak bertepi itu. Maka pergunakanlah jalan hidup yang baru kita dapatkan ini. Bila HIDUP tidak kita pergunakan, tidak perlu disesalkan kalau satu saat nanti kita ditinggalkannya.
Dengan telah melahirkan kandungan itu, kita telah menjadi manusia baru dengan tenaga baru, dan sebutan baru, yaitu; Manusia Hidup, bukan mayat Hidup. Lanjut punya wedaran...
Rahasia kandungan telah terbuka dengan hasil dari latihan latihan yang telah kita lakukan, yaitu keluarnya pancaran yang terasa betul pada ujung KUKU kita, ujung jari jemari kita. Dan kita telah melahirkan kandungan kita sendiri.
Yang melahirkan kita dan yang dilahirkan kita pula. Kita yang telah terlahir itu ialah DIRI YANG BERDIRI DENGAN SENDIRINYA, bergerak dan berjalan dengan sendirinya, akan tetapi duduk ditempatnya.
Keluarnya dari badan kita melalui saluran saluran tertentu yang bernamakan pancaran yang setelah sanggup menebus alam sendiri akan sanggup pula menembus alam lain, kalau kita telah dapat menguasai dan mengetahui akan RAHSIANYA yang sebenarnya.
Ibu melahirkan kita sebagai seorang manusia lengkap, dengan pembawaan dan kelahiran kita, mengandung pembawaan itu untuk hidup. Untuk melanjutkan jalannya kehidupan kita, supaya dapat menikmati Kebahagiaan Hidup, maka, adalah tugas kita melahirkan kandungan kita ,yaitu pembawaan dari Rahim ibu.
Kebahagiaan hidup yang kita alami di Rahim ibu, semasa dalam kandungan ibu, iyalah dengan hidupnya bunda mengandung atau dengan dua keadaan hidup, yaitu pertama yang mengandung dan yang kedua yang dikandung.
Sebelum kita dapat melahirkan kandungan kita itu sampai akhir hayat kita, maka senantiasa akan panjanglah jalannya kehidupan kita yang kita rasai, karena melakukan hidup sendiri. Maka untuk kesempurnaan jalannya kehidupan kita, lahirkanlah kandungan sendiri. Kelahirannya mendatangkan HIDUP BARU bagi kita, dan seimbangkanlah jalannya kehidupan kita. Kita telah bertahun-tahun berjalan sendiri-sendiri, mengarungi lautan hidup yang tidak bertepi itu. Maka pergunakanlah jalan hidup yang baru kita dapatkan ini. Bila HIDUP tidak kita pergunakan, tidak perlu disesalkan kalau satu saat nanti kita ditinggalkannya.
Dengan telah melahirkan kandungan itu, kita telah menjadi manusia baru dengan tenaga baru, dan sebutan baru, yaitu; Manusia Hidup, bukan mayat Hidup. Lanjut punya wedaran...
MENGENAL
"DIRI " DENGAN WAHYU PANCA GHA’IB;
Mengenal Diri
Sebenar-benarnya "Diri."
Seperti yang
sudah saya uraikan diatas, bahwa untuk semua pengetahuan, yang di katakan
"Diri" itu sebenarnya datang kemudian setelah Roh, atau dengan
kata lain "Diri" itu. adalah perkembangan Roh di dalam jasad.
Ini membawa arti,
bahwasannya, setelah Roh memasuki jasad, perkembangannya, yang berupa cahaya
memenuhi seluruh bagian dalam jasad, dan ini lah dia "Diri"
sebenar "Diri" dan "Diri" ini lah yang harus di kenal,
bagaimana-kah dia? dan terdiri dari apa kah dia?.
Perumpama’an
yang mudah, ibaratkan satu bulam lampu di dalam bilik, bulam itu Roh dan cahaya
yang menerangi bilik itu lah "Diri". Dan tentu nya, cahaya tadi,
memenuhi ruang bilik tersebut dan bentuk cahaya itu pasti nya sama dengan cahaya
yang berasal dari bulam lampu dan bentuk bilik tersebut. Sekiranya bulam lampu
itu berbentuk empat segi, pasti cahaya tadi juga akan membentuk empat segi dan
begitu pula pada bentuk-bentuk yang lainnya.
Jadi, sekiranya
pasti kita paham, bahwa cahaya yang terhasil dari Roh tadi, telah berkembang ke
seluruh anggota dalam jasad kita, hingga ia membentuk rupa dan keadaan yang
sama dengan jasad, cuma bedanya, jasad terdiri dari daging dan tulang dan Diri
dari asalnya cahaya Roh. Cahaya ini berupa aliran letrik yang mengaliri di
setiap urat dan saraf jasad kasar kita ini.
Untuk
mengenalnya, kita harus lah lahirkan cahaya diri ini, agar keluar, karena batas
nya dengan dunia luar hanyalah kulit kita ini.
Bagaimana harus
melahirkannya, dan merasakan akan aliran cahaya itu di setiap bahagian tubuh
kita?.
Pada dasarnya
ada 2 jalan/caranya;
1. Bisa Terlahir
dengan sendirinya, (bagi yang lakon kadhangan dan laku Wahyu Panca Gha’ib
secara aktif, maksudnya, terus menerus tiada hentinya), dengan Toto Titi Surti
Ngati-ngati alias SADAR.
2. Dilahirkan
oleh Guru/Pembimbing (yang telah mumpuni dalam Wahyu Panca Gha’ib) dan telah berhasil sampai
di titik bab tersebut.
Melahirkannya,
bermakna Mijilake/Melahirkan cahaya itu, keluar dari dalam jasad kita sendiri
dan kita akan dapat merasakannya, dengannya akan lahirnya cahaya itu. (Ini
perkara benar yang tidak dapat dinafikan oleh mereka-mereka yang telah di
bukakan Diri mereka itu)
Apabila terbuka
Diri sebenar-nya Diri ini, maka akan ternyatalah-terbuktilah, akan rahasia-rahasia
Dia dan dia lah, yang akan kita utamakan dalam segala tindakan dan semua
perbuatan, dia tahu karena dia datang dari yang Maha Tahu, Dia kuat karena
Dia datang dari yang Maha Kuat, Beriman dengan Iman yang tidak Goyah, BEBAS
TETAPI TIDAK LEPAS. Itulah Mardika/Mardiko/Merdeka.
MENGENAL DIRI.
BERATI MENGENAL HYANG MAHA SUCI HIDUP/ALLAH;
Untuk memahami
dan mendalami Ilmu pengetahuan ini, harus lah berguru/belajar pada yang sudah
pernah belajar dan sudah berhasil mempelajarinya, jika tidak, mana mungkin
bisa, dan diatas tadi, saya menerangkan
nya secara kasar, blak kotak tanpa tedeng aling-aling, dan tujuan saya adalah,
untuk mengaitkan Rasa Asah Asih Asuh sebagai sesama Hidup, bukan sebatas
sebagai sesama Putera Rama, bahwasannya, ilmu pelajaran ini, adalah satu-satunya
ilmu pengetahuan, yang wajib dan perlu harus di ketahui dan di kaji, untuk
memperkuatkan iman/laku kita, dan juga dapat mengelakkan kita dari, terjerumus
kedalam kesesatan iman/laku serta dapat meletakan Hyang Maha Suci Hidup, kedalam
segala tindak tanduk kita sehari-hari. Dan ini lah salah satu jalan termudah
dan menjamin bisa untuk mendapatkan Ridha Hyang Maha Suci Hidup/ALLAH.
Disamping itu,
dengan mengetahui dan mengenal “DIRI” kita juga boleh mempergunakan akan
kelebihannya, yang ada pada diri kita ini, untuk bermacam-macam tujuan dalam
mengharungi bahtera kehidupan di dunia yang penuh dengan ujian dan dugaan ini.
Memperkuatkan ketabahan kita dalam kehidupan ini, apapun yang terjadi.
Sedulur dan Para Kadhang Kinasihku
sekalian. Ketahuilah....
Pintu Guru Sejati itu. Tersembunyi;
Inilah sesuatu pasal yang menyatakan
pintu guru sejati itu, tersembunyi, yang tiada diajarkan kepada orang-orang
yang belum belajar tentang Ilmu Tauhid atau Sifat 20 (dua puluh). Sebab, perihal
ini, berisi ilmu-ilmu khusus pelajaran mengenal diri atau tata cara mengenal Hyang
Maha Suci Hidup/Allah pencipta Alam dan segala isinya. Tujuannya, supaya
sempurna segala amal ibadahnya. Maksudnya, tidak melangkahi kodrat dan
irodatnya sebagai manusia wajar. Tentangnya, mari kita simak bersama, saya akan
mewedarnya dengan terbuka, blak kotak tanpa tedeng aling-aling apapun.
Di dalam tulang kepala itu, Otak.
Di dalam Otak itu, Ma’al Hayat atau Air Hidup.
Di dalam Ma’al Hayat itu, Akal.
Di dalam Akal itu, Budi.
Di dalam Budi itu, Roh.
Di dalam Roh itu, Mani.
Di dalam Mani itu, Rasa.
Di dalam Rasa itu, Nikmat/Tenteram.
Di dalam Nikmat itu, Nur Muhammad/Hidup.
Di dalam Nur Muhammad itu, Hyang Maha Suci Hidup/Allah.
Firman Allah “AWWALU TAJLI ZATTULLAH TA’ALA BISIFATIHI
Artinya : Mula-mula timbul Zat Allah Ta’ala kepada Sifatnya
AWWALU TAJLI SIFATULLAH TA’ALA BIASMA IHI
Artinya : Mula-mula timbul Sifat Allah Ta’ala kepada namanya
AWWALU TAJLI ASMADULLAHI TA’ALA BIAP ALIHI
Artinya : Mula-mula timbul nama Allah ta’ala kepada perbuatannya
AWWALU TAJLI AF ALULLAHI TA’ALA BIINSAN KAMILUM BIASMAI.
Artinya : Mula-mula timbul perbuatan Allah Ta’ala kepada Insan yang Kamil yakni Muhammad RasulNya
Di dalam tulang kepala itu, Otak.
Di dalam Otak itu, Ma’al Hayat atau Air Hidup.
Di dalam Ma’al Hayat itu, Akal.
Di dalam Akal itu, Budi.
Di dalam Budi itu, Roh.
Di dalam Roh itu, Mani.
Di dalam Mani itu, Rasa.
Di dalam Rasa itu, Nikmat/Tenteram.
Di dalam Nikmat itu, Nur Muhammad/Hidup.
Di dalam Nur Muhammad itu, Hyang Maha Suci Hidup/Allah.
Firman Allah “AWWALU TAJLI ZATTULLAH TA’ALA BISIFATIHI
Artinya : Mula-mula timbul Zat Allah Ta’ala kepada Sifatnya
AWWALU TAJLI SIFATULLAH TA’ALA BIASMA IHI
Artinya : Mula-mula timbul Sifat Allah Ta’ala kepada namanya
AWWALU TAJLI ASMADULLAHI TA’ALA BIAP ALIHI
Artinya : Mula-mula timbul nama Allah ta’ala kepada perbuatannya
AWWALU TAJLI AF ALULLAHI TA’ALA BIINSAN KAMILUM BIASMAI.
Artinya : Mula-mula timbul perbuatan Allah Ta’ala kepada Insan yang Kamil yakni Muhammad RasulNya
QOLAH NABIYI SAW : “AWALUMAA
KHALAKALLAHU TA’ALA NURI”
Artinya : Berkata Nabi SAW, yang mula-mula dijadikan Allah Ta’ala Cahayaku, baru Cahaya sekalian Alam
QALAN NABIYI SAW : “AWWALU MAA KHALAKALLAHUTA’ALA RUHI"
Artinya : Yang mula-mula dijadikan Allah Ta’ala Rohku, baharu roh sekalian alam
QOLAN NABIYI SAW : “AWWALU MAA KHALAKALAHU TA’ALA QOBLI”
Artinya : Yang mula-mula dijadikan Allah Ta’ala Hatiku, bahru hati sekalian alam
QOLAN NABIYI SAW : “AWWALU MAA KHALAKALLAHUTA’ALA AKLI”
Artinya : Yang mula-mula dijadikan Allah Ta’ala Akalku, baharu akal sekalian alam
QOLAN NABIYI SAW : “ANA MINNURILAHI WA ANA MINNURIL ALAM”
Artinya : Aku cahaya Allah dan Aku juga menerangi Alam
HADIST : "AWALUDDIN MA’RIFATULLAH”
Artinya : Awal-awal agama adalah mengenal Allah
Sebelum mengenal Allah terlebih dahulu kita disuruh mengenal diri, seperti Hadist : "MAN’ARA PANAP SAHU PADAD’ARA PARABBAHU”
Artinya : Barang siapa mengenal dirinya, mengenal ia akan Tuhannya
“MAN ‘ARA PANAPSAHU PAKD’RA PARABBAHU LAYA RIPU NAPSAHU"
Artinya : Barang siapa mengenal Tuhannya, niscaya tiada dikenalnya lagi dirinya
"MAN ‘ARA PANAPSAHU BILFANA PAKAD’ARA PARABBAHU BIL BAQA”
Artinya : Maka barang siapa mengenal dirinya binasa, niscaya dikenalnya Tuhannya kekal
Artinya : Berkata Nabi SAW, yang mula-mula dijadikan Allah Ta’ala Cahayaku, baru Cahaya sekalian Alam
QALAN NABIYI SAW : “AWWALU MAA KHALAKALLAHUTA’ALA RUHI"
Artinya : Yang mula-mula dijadikan Allah Ta’ala Rohku, baharu roh sekalian alam
QOLAN NABIYI SAW : “AWWALU MAA KHALAKALAHU TA’ALA QOBLI”
Artinya : Yang mula-mula dijadikan Allah Ta’ala Hatiku, bahru hati sekalian alam
QOLAN NABIYI SAW : “AWWALU MAA KHALAKALLAHUTA’ALA AKLI”
Artinya : Yang mula-mula dijadikan Allah Ta’ala Akalku, baharu akal sekalian alam
QOLAN NABIYI SAW : “ANA MINNURILAHI WA ANA MINNURIL ALAM”
Artinya : Aku cahaya Allah dan Aku juga menerangi Alam
HADIST : "AWALUDDIN MA’RIFATULLAH”
Artinya : Awal-awal agama adalah mengenal Allah
Sebelum mengenal Allah terlebih dahulu kita disuruh mengenal diri, seperti Hadist : "MAN’ARA PANAP SAHU PADAD’ARA PARABBAHU”
Artinya : Barang siapa mengenal dirinya, mengenal ia akan Tuhannya
“MAN ‘ARA PANAPSAHU PAKD’RA PARABBAHU LAYA RIPU NAPSAHU"
Artinya : Barang siapa mengenal Tuhannya, niscaya tiada dikenalnya lagi dirinya
"MAN ‘ARA PANAPSAHU BILFANA PAKAD’ARA PARABBAHU BIL BAQA”
Artinya : Maka barang siapa mengenal dirinya binasa, niscaya dikenalnya Tuhannya kekal
"KHALAK TUKA YA MUHAMMAD WAKHALAK
TUKA ASY YA ILA ZALIK"
Artinya : Aku jadikan Engkau karena Aku dan Aku jadikan Alam dengan segala isinya karena Engkau Ya Muhammad
Firman Allah : “AL INSAN SIRRU WA ANA SIRRUHU”
Artinya : Insan itu RahasiakKu dan Aku Rahasia Insan
“WA AMBATNAL ABRU RABBUN AU ZAHIRU RABBUN ABBUN”
Artinya : Adapun bathin hamba itu Tuhan dan Zahir dan Tuhan itu hamba
“LAHIN HUWA WALAHIN GHAIRUH”
Artinya : Tiada ia tetap dan tiada ia lain dari ia
Firman Allah Ta’ala didalam Al-quran : “FAHUWA MA’AKUM AINAMA KUNTUM”
Artinya : Di mana saja Engkau berada (pergi) Aku serta kamu
"HUWAL AWWALU WAL AKHIRU WALBATHINU WAZZAHIRU”
Artinya : Ia jua Tuhan yang awal tiada permulaannya, dan Ia jua Tuhan yang akhir tiada kesesudahannya, Ia jua bathin dan Ia jua Zahir
Dalam pandangan Ma’rifat kita kepada Zat Allah Ta’ala itu, “LAISA KAMIS LIHI SYAIUN" tiada seumpamanya bagi sesuatu, dan bukan bertempat.
Adapun Ma’rifat kita atau pengenalan kita akan diri diperikan AF 'ALULLAH, adapun Ma’rifat kita akan AF ‘ALULLAH, LAHAU LAWALA KUWWATA ILLAH BILLAHHIL’ALI YIL’AZIM. Artinya : Datang daripada Allah dan kembalinya kepada Allah jua segala sesuatu, sesuai dengan hadist Nabi yang berbunyi demikian : “MUTU ANTAL KABLAL MAUTU”. Artinya : Matikan diri kamu sebelum mati kamu.
Adapun mati ini ada dua ma’na, maka apa bila Roh bercerai dengan jasad itu mati hisi namanya, atau mati yang sebenarnya. Adapun mati yang dimaksud hadis Nabi yang di atas tadi, adalah mati Ma’nawi, artinya mati dalam pengenalan mata hati.
Mahasuci Allah Subhanahu wata’ala Tuhan Rabbil’izzati dari upayamu, wujudmu, supaya Aku terang sempurna, upaya Allah dan kuat Allah, dan wujudnya Allah “BILLAHI LAYARILLAH” tiada yang mempunyai dan menyembah Allah hanya Allah.
Bagitu sekalian Aribbillah mengerjakan ibadat kepada Allah Ta’ala. Adapun yang bernama Rahasia itu “Sirrullah”.
Adapun kita bertubuh akan Muhammad Bathin dan Zahir bertubuh akan Roh. Adapun jadi nyawa itu bertubuh kanan Idhafi Kadim (terdahulu), maka tiada lagi kita kenang tubuh dan zahir dan bathin itu, akan bernama Rahasia Ia Allah, Sir namanya kepada kita, karena rahasia itu Nur. Adapun sebenar-benarnya Sifatullahita’ala kepada kita inilah RahasiaNya yang dibicarakan Rahasia yang sebenarnya RahasiaNya yang kita ketahui.
Adapun jalan hakikat yang sebenarnya yang mengata Allahu Akbar waktu kita sembahyang itu, ialah Zat, Sifat, Asma, Af’al, Kudrat, Iradat, Ilmu, Hayat, itu nama Rahasia Allah Ta’ala namanya kepada kita, itulah yang mengata Allahu Akbar tiada hati lagi, karena yang bernama Zat, Sifat, Asma, Af’al, Kudrat Iradat, Ilmu, Hayat itu nama Rahasia Allah Ta’ala namanya kepada kita.
Batin dan zahir kita akan memerintah diri, adapun diri kita tadi ialah Roh. Roh tadilah yang menerima perintah rahasia, maka berlakulah berbagai-bagai bunyi dan kelakuan di dalam sembahyang. Semua itu adalah perintah rahasia, maka perintah rahasia inilah Sirrullah. Karena Rahasia inilah kita dapat melihat Allah dan menyembah Allah serta hidup berbagai-bagai, itulah rahasia Allah kepada kita.
Firman Allah “MAN ‘ARA PANAPSAHU PAKAD’ARA PARABBAHU”
Artinya : Maka barang siapa mengenal dirinya, mengenal ia akan Tuhannya.
Maka mengetahui ia akan asal Nabi Allah Adam, nasarnya Air, Api, Angin, Tanah. Empat inilah yang dijadikan Allah, maka turun kepada kita seperti Firman Allah Ta’ala, kita disuruh mengetahui :
Adapun tanah itu Tubuh kita?
Adapun Api itu Darah kita?
Adapun Air itu Air Liur kita?
Adapun Angin itu Nafas kita?
Maka berdiri syari’at, adapun kejadian air itu Tarikat, kejadian api itu Hakikat, dan kejadian Angin itu Ma’rifat. Baginilah kita atau cara kita mengenal diri namanya.
Adapun tatkala kita tidur itu, adalah perintah Rahasia Allah, maka dari itu janganlah lagi kita kenang dan janganlah kita berkehendak atau panjang angan-angan dan jangan lagi diingat diri kita ini, karena tiada hayat lagi di waktu kita tidur itu, itu adalah Rahasia Allah.
Adapun perintah segala hati pada tengah-tengah hati berbagai bagai, adapun tempat rahasia itu di dalam jantung. Maka jikalau tiada rahasia Allah itu, tiadalah bathin dan zahir ini berkehendak, karena pada hakekatnya rahasia Allah itulah menjadi kehendak segala manusia dan binatang. Akan tetapi awas, jagalah hukum syara’ (syari’at) yang difardhukan pada kita, maka dari tiliklah dan perhatikan bersunguh-sungguh perkara yang tersebut di atas.
Maka barang siapa menilik sesuatu tiada melihat ia akan Allah di dalamnya, maka tiliknya itu batil atau syirik, karena ia tiada melihat akan Allah Ta’ala.
Berkata Saidina Abu Bakar Siddik r.a :
Artinya : Tiada aku melihat akan sesuatu melainkan Allah, yang aku lihat Allah Ta’ala terlebih dahulu.
Kata Umar Ibnu Khattab r.a :
“MAA RAAITU SYAIAN ILLA WARAAITULLAHU MA’AHU”
Artinya : Tiada aku lihat sesuatu melainkan aku lihat Allah kemudiannya.
Kata Usman Ibnu Affan r.a :
Artinya : Tiada aku melihat sesuatu melainkan yang aku lihat Allah besertanya.
Kata Ali Ibnu Abi Talib r.a :
Artinya : Tiada Ku lihat sesuatu kecuali Allah yang kulihat di dalamnya.
Artinya : Aku jadikan Engkau karena Aku dan Aku jadikan Alam dengan segala isinya karena Engkau Ya Muhammad
Firman Allah : “AL INSAN SIRRU WA ANA SIRRUHU”
Artinya : Insan itu RahasiakKu dan Aku Rahasia Insan
“WA AMBATNAL ABRU RABBUN AU ZAHIRU RABBUN ABBUN”
Artinya : Adapun bathin hamba itu Tuhan dan Zahir dan Tuhan itu hamba
“LAHIN HUWA WALAHIN GHAIRUH”
Artinya : Tiada ia tetap dan tiada ia lain dari ia
Firman Allah Ta’ala didalam Al-quran : “FAHUWA MA’AKUM AINAMA KUNTUM”
Artinya : Di mana saja Engkau berada (pergi) Aku serta kamu
"HUWAL AWWALU WAL AKHIRU WALBATHINU WAZZAHIRU”
Artinya : Ia jua Tuhan yang awal tiada permulaannya, dan Ia jua Tuhan yang akhir tiada kesesudahannya, Ia jua bathin dan Ia jua Zahir
Dalam pandangan Ma’rifat kita kepada Zat Allah Ta’ala itu, “LAISA KAMIS LIHI SYAIUN" tiada seumpamanya bagi sesuatu, dan bukan bertempat.
Adapun Ma’rifat kita atau pengenalan kita akan diri diperikan AF 'ALULLAH, adapun Ma’rifat kita akan AF ‘ALULLAH, LAHAU LAWALA KUWWATA ILLAH BILLAHHIL’ALI YIL’AZIM. Artinya : Datang daripada Allah dan kembalinya kepada Allah jua segala sesuatu, sesuai dengan hadist Nabi yang berbunyi demikian : “MUTU ANTAL KABLAL MAUTU”. Artinya : Matikan diri kamu sebelum mati kamu.
Adapun mati ini ada dua ma’na, maka apa bila Roh bercerai dengan jasad itu mati hisi namanya, atau mati yang sebenarnya. Adapun mati yang dimaksud hadis Nabi yang di atas tadi, adalah mati Ma’nawi, artinya mati dalam pengenalan mata hati.
Mahasuci Allah Subhanahu wata’ala Tuhan Rabbil’izzati dari upayamu, wujudmu, supaya Aku terang sempurna, upaya Allah dan kuat Allah, dan wujudnya Allah “BILLAHI LAYARILLAH” tiada yang mempunyai dan menyembah Allah hanya Allah.
Bagitu sekalian Aribbillah mengerjakan ibadat kepada Allah Ta’ala. Adapun yang bernama Rahasia itu “Sirrullah”.
Adapun kita bertubuh akan Muhammad Bathin dan Zahir bertubuh akan Roh. Adapun jadi nyawa itu bertubuh kanan Idhafi Kadim (terdahulu), maka tiada lagi kita kenang tubuh dan zahir dan bathin itu, akan bernama Rahasia Ia Allah, Sir namanya kepada kita, karena rahasia itu Nur. Adapun sebenar-benarnya Sifatullahita’ala kepada kita inilah RahasiaNya yang dibicarakan Rahasia yang sebenarnya RahasiaNya yang kita ketahui.
Adapun jalan hakikat yang sebenarnya yang mengata Allahu Akbar waktu kita sembahyang itu, ialah Zat, Sifat, Asma, Af’al, Kudrat, Iradat, Ilmu, Hayat, itu nama Rahasia Allah Ta’ala namanya kepada kita, itulah yang mengata Allahu Akbar tiada hati lagi, karena yang bernama Zat, Sifat, Asma, Af’al, Kudrat Iradat, Ilmu, Hayat itu nama Rahasia Allah Ta’ala namanya kepada kita.
Batin dan zahir kita akan memerintah diri, adapun diri kita tadi ialah Roh. Roh tadilah yang menerima perintah rahasia, maka berlakulah berbagai-bagai bunyi dan kelakuan di dalam sembahyang. Semua itu adalah perintah rahasia, maka perintah rahasia inilah Sirrullah. Karena Rahasia inilah kita dapat melihat Allah dan menyembah Allah serta hidup berbagai-bagai, itulah rahasia Allah kepada kita.
Firman Allah “MAN ‘ARA PANAPSAHU PAKAD’ARA PARABBAHU”
Artinya : Maka barang siapa mengenal dirinya, mengenal ia akan Tuhannya.
Maka mengetahui ia akan asal Nabi Allah Adam, nasarnya Air, Api, Angin, Tanah. Empat inilah yang dijadikan Allah, maka turun kepada kita seperti Firman Allah Ta’ala, kita disuruh mengetahui :
Adapun tanah itu Tubuh kita?
Adapun Api itu Darah kita?
Adapun Air itu Air Liur kita?
Adapun Angin itu Nafas kita?
Maka berdiri syari’at, adapun kejadian air itu Tarikat, kejadian api itu Hakikat, dan kejadian Angin itu Ma’rifat. Baginilah kita atau cara kita mengenal diri namanya.
Adapun tatkala kita tidur itu, adalah perintah Rahasia Allah, maka dari itu janganlah lagi kita kenang dan janganlah kita berkehendak atau panjang angan-angan dan jangan lagi diingat diri kita ini, karena tiada hayat lagi di waktu kita tidur itu, itu adalah Rahasia Allah.
Adapun perintah segala hati pada tengah-tengah hati berbagai bagai, adapun tempat rahasia itu di dalam jantung. Maka jikalau tiada rahasia Allah itu, tiadalah bathin dan zahir ini berkehendak, karena pada hakekatnya rahasia Allah itulah menjadi kehendak segala manusia dan binatang. Akan tetapi awas, jagalah hukum syara’ (syari’at) yang difardhukan pada kita, maka dari tiliklah dan perhatikan bersunguh-sungguh perkara yang tersebut di atas.
Maka barang siapa menilik sesuatu tiada melihat ia akan Allah di dalamnya, maka tiliknya itu batil atau syirik, karena ia tiada melihat akan Allah Ta’ala.
Berkata Saidina Abu Bakar Siddik r.a :
Artinya : Tiada aku melihat akan sesuatu melainkan Allah, yang aku lihat Allah Ta’ala terlebih dahulu.
Kata Umar Ibnu Khattab r.a :
“MAA RAAITU SYAIAN ILLA WARAAITULLAHU MA’AHU”
Artinya : Tiada aku lihat sesuatu melainkan aku lihat Allah kemudiannya.
Kata Usman Ibnu Affan r.a :
Artinya : Tiada aku melihat sesuatu melainkan yang aku lihat Allah besertanya.
Kata Ali Ibnu Abi Talib r.a :
Artinya : Tiada Ku lihat sesuatu kecuali Allah yang kulihat di dalamnya.
Maka perkataan para sahabat itu agar
berbeda, akan tetapi maknanya bersamaan.
Firman Allah di dalam Al-Quraan yang berbunyi :
“WAHUWA MAAKU AINAMA KUNTUM”
Artinya : Ada hak Tuhan kamu
Firman Allah Ta’ala :
“WAHI AMPUSIKUM APALA TUBSIRUN”
Artinya : Ada Tuhan kamu di dalam diri kamu, mengapa tidakkah kamu lihat akan Aku kata Allah, padalah Aku terlebih hampir dari padamu matamu yang putih dengan hitamnya, terlebih hampir lagi Aku dengan kamu.
Kemudian dari itu hendaklah kita ketahui benar-benar akan diri ini mengapa kita ini menjadi hidup, melihat, mendengar, berkata-kata, kuasa memilih baik dan jahat, cuba renungkan sejenak, siapakah yang berbuat di balik kekuasaan kita ini. Maka di sini kita kembalikan saja kepada pasal rahasia yang telah lalu, sebutannya pasti kita bertemu dengan Allah atau Mi’raj dengan Dia.
Maka barang siapa tiada mengetahui perkara ini, tiada sempurna hidupnya dunia dan akhirat dan jikalau dia beramal apa saja semua amalannya itu syirik, maka dari itu hendaklah kita ketahui benar-benar apa asalnya yang menjadi nyawa dan roh itu. Yang menjadi Nyawa dan Roh itu ialah ZADTULLAHITA’ALA daripada Ilmunya dan Roh sekalian alam.
Seperti sabda nabi kita “ANA ABUL BASYARI”
Artinya : Aku Bapak segala Roh dan Bapak segala Tubuh
Bermula sebenarnya Roh, tatkala di dalam tubuh, Nyawa namanya, tatkala ia berkehendak, Hati namanya, tatkala ia kuasa memperbuat, Akal namanya, maka kesemuanya itu adalah Rahasia Allah Ta’ala kepada kita. Maka barang siapa tiada tahu perjalanan ini, maka tiada sempurna hidupnya dunia dan akhirat.
Hidup ada nyawa itulah Muhammad dinamai akan dia bayang-bayang Ianya yang empunya bayang-bayang dan Idhofi, akan tetapi daripada Nur jua, karena tiada diterima oleh akal kalau bayang-bayang itu maujud sendirinya, kalau ada yang empunya bayang-bayang ialah Allah Ta’ala sendirinya.
Demi Allah dan Rasulullah Islam dan Kafir, jikalau tiada tahu atau tiada percaya akan kejadian Nur itu perjalanan Roh, maka menjadi kafir lagi munafik. Karena apabila tiada tahu mengenal diri dan tiada tahu/tiada dapat membedakan antara Khalik dan Makhluk, maka amalan orang tersebut itu Syirik.
Peganglah nasihat seorang Al Arifbillah yang berbunyi demikian :
“LATUHADDISUN NAASIBIMA LAMTUSLIHU AKWALAHUM ATURIDDUN AYYUKAZ ZIBULLAHAWARASULIH”
Artinya : Jangan kamu ajarkan akan manusia, akan ilmu yang tiada sampai akal mereka itu, adalah kamu itu nanti didustakannya oleh mereka itu Allah dan Rasulnya, maka orang itu kafir.
Jadi garis besarnya, apabila seseorang umpamanya, belum pernah belajar dan mempelajari Ilmu Usuluddin atau Sifat `20 (dua puluh) tidak boleh diajarkan Ilmu Rahasia yang tersebut diatas tadi. Tapi dengan Wahyu Panca Gha’ib. Bisa dan Boleh, tinggal tau caranya apa tidak... itu saja. He he he . . . Edan Tenan. SALAM RAHAYU HAYU MEMAYU HAYUNING KARAHAYON KANTI TEGUH SLAMET BERKAH SELALU Untukmu Sekalian para Kadhang Konto dan Kanti Anom maupun Sepuh kinasih saya, yang senantiasa di Ridhoi ALLAH Azza wa Jalla Jalla Jalaluhu. Pamrih saya berharap POSTINGAN SAYA KALI INI. Dapat Bermanfaat untuk semua Kadhang kinasihku sekalian tanpa terkecuali yang belum mengetahui ini dan Bisa Menggugah Rasa Hidup nya siapapun yang membacanya.
Firman Allah di dalam Al-Quraan yang berbunyi :
“WAHUWA MAAKU AINAMA KUNTUM”
Artinya : Ada hak Tuhan kamu
Firman Allah Ta’ala :
“WAHI AMPUSIKUM APALA TUBSIRUN”
Artinya : Ada Tuhan kamu di dalam diri kamu, mengapa tidakkah kamu lihat akan Aku kata Allah, padalah Aku terlebih hampir dari padamu matamu yang putih dengan hitamnya, terlebih hampir lagi Aku dengan kamu.
Kemudian dari itu hendaklah kita ketahui benar-benar akan diri ini mengapa kita ini menjadi hidup, melihat, mendengar, berkata-kata, kuasa memilih baik dan jahat, cuba renungkan sejenak, siapakah yang berbuat di balik kekuasaan kita ini. Maka di sini kita kembalikan saja kepada pasal rahasia yang telah lalu, sebutannya pasti kita bertemu dengan Allah atau Mi’raj dengan Dia.
Maka barang siapa tiada mengetahui perkara ini, tiada sempurna hidupnya dunia dan akhirat dan jikalau dia beramal apa saja semua amalannya itu syirik, maka dari itu hendaklah kita ketahui benar-benar apa asalnya yang menjadi nyawa dan roh itu. Yang menjadi Nyawa dan Roh itu ialah ZADTULLAHITA’ALA daripada Ilmunya dan Roh sekalian alam.
Seperti sabda nabi kita “ANA ABUL BASYARI”
Artinya : Aku Bapak segala Roh dan Bapak segala Tubuh
Bermula sebenarnya Roh, tatkala di dalam tubuh, Nyawa namanya, tatkala ia berkehendak, Hati namanya, tatkala ia kuasa memperbuat, Akal namanya, maka kesemuanya itu adalah Rahasia Allah Ta’ala kepada kita. Maka barang siapa tiada tahu perjalanan ini, maka tiada sempurna hidupnya dunia dan akhirat.
Hidup ada nyawa itulah Muhammad dinamai akan dia bayang-bayang Ianya yang empunya bayang-bayang dan Idhofi, akan tetapi daripada Nur jua, karena tiada diterima oleh akal kalau bayang-bayang itu maujud sendirinya, kalau ada yang empunya bayang-bayang ialah Allah Ta’ala sendirinya.
Demi Allah dan Rasulullah Islam dan Kafir, jikalau tiada tahu atau tiada percaya akan kejadian Nur itu perjalanan Roh, maka menjadi kafir lagi munafik. Karena apabila tiada tahu mengenal diri dan tiada tahu/tiada dapat membedakan antara Khalik dan Makhluk, maka amalan orang tersebut itu Syirik.
Peganglah nasihat seorang Al Arifbillah yang berbunyi demikian :
“LATUHADDISUN NAASIBIMA LAMTUSLIHU AKWALAHUM ATURIDDUN AYYUKAZ ZIBULLAHAWARASULIH”
Artinya : Jangan kamu ajarkan akan manusia, akan ilmu yang tiada sampai akal mereka itu, adalah kamu itu nanti didustakannya oleh mereka itu Allah dan Rasulnya, maka orang itu kafir.
Jadi garis besarnya, apabila seseorang umpamanya, belum pernah belajar dan mempelajari Ilmu Usuluddin atau Sifat `20 (dua puluh) tidak boleh diajarkan Ilmu Rahasia yang tersebut diatas tadi. Tapi dengan Wahyu Panca Gha’ib. Bisa dan Boleh, tinggal tau caranya apa tidak... itu saja. He he he . . . Edan Tenan. SALAM RAHAYU HAYU MEMAYU HAYUNING KARAHAYON KANTI TEGUH SLAMET BERKAH SELALU Untukmu Sekalian para Kadhang Konto dan Kanti Anom maupun Sepuh kinasih saya, yang senantiasa di Ridhoi ALLAH Azza wa Jalla Jalla Jalaluhu. Pamrih saya berharap POSTINGAN SAYA KALI INI. Dapat Bermanfaat untuk semua Kadhang kinasihku sekalian tanpa terkecuali yang belum mengetahui ini dan Bisa Menggugah Rasa Hidup nya siapapun yang membacanya.
*Matur Nuwun ROMO....._/\_.....Terima
Kasih.Terima Kasih. Terima Kasih*
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 - 9966
http://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com
Post a Comment